BAB
I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
MASALAH
Adalah fakta bahwa
kemiskinan, keterbelakangan, kebodohan, ketertindasan, ketidakadilan, dan
semacamnya hingga tingkat tertentu masih merupakan realitas keseharian sebagian
besar umat Islam di belahan dunia manapun, tak terkecuali di Indonesia. Banyak hal bisa dituding sebagai penyebabnya, baik dari aspek sumber daya manusianya atau pun
pada ranah sistem pemerintahannya yang dinilai masih gagal dalam menyelesaikan berbagai
problema yang ada. Namun, terlepas apapun prime cause dari realitas dimaksud,
impotensi umat Islam menghadapi kenyataan itu tentu ironis demi menyadari
betapa sesungguhnya Islam sarat akan spirit revolusioner, nilai-nilai
moral yang membebaskan, yang mendorong ke arah terciptanya tatanan hidup yang
lebih baik, layak, dan manusiawi.
Banyak alasan yang bisa disebut
mengapa ketakberdayaan itu tak kunjung usai. Salah satunya ialah ketiadaan
motivasi religius dari dalam hati manusia tersebut. Fakta
ketakberdayaan umat itu memang berkaitan erat dengan ketiadaan motivasi religius yang mampu berperan sebagai motivator
perubahan, yang berperan transformatif dan menggerakkan mereka untuk
membebaskan diri dari serimpung realitas sosial tak mengenakkan. Di situ
kuncinya. Ketiadaan motivasi religius itu membuat apa yang disebut transformasi
sosial nyaris tak pernah berlangsung secara signifikan di dunia Islam, termasuk
Indonesia.
Dengan melihat berbagai masalah
tersebut, Ashgar Ali Engineer hadir dengan pemikirannya yang mengarah pada pembebasan terhadap
belenggu yang selama ini menyelimuti kaum islam. Ia melihat agama bisa menjadi
candu, yang mana jika candu itu berarti
positif akan berubah menjadi kekuatan yang kuat untuk membentuk suatu pemikiran
revolusioner guna membebaskan kaum islam dari ruang lingkup ketakberdayaan
tadi.
Selanjutnya penyusun menyusun makalah
ini guna mencoba menggambarkan secara garis besar pola pemikiran Ashgar Ali
Engineer yang erat kaitannya dengan “islam dan teologi pembebasan”.
B.
RUMUSAN MASALAH
Dengan latar belakang di atas, maka rumusan
masalah dalam makalah ini antara lain :
1.
Apakah yang menjadi pemikiran dari Ashgar Ali
Engineer?
2.
Hal apa sajakah yang melatar belakangi Ashgar Ali
Engineer mempunyai pemikiran seperti itu?
3.
Apa saja kontribusi dan pengaruh pemikiran Ashgar
Ali Engineer dalam membangun peradaban Islam?
4.
Bagaimanakah pandangan Ashgar Ali Engineer
terhadap Islam?
C. TUJUAN PEMBAHASAN
Tujuan
dari pembahasan makalah ini agar
- Mengetahui berbagai pemikiran Ashgar Ali Engineer.
- Memahami berbagai hal yang melatar belakangi pemikiran Ashgar Ali Engineer.
- Mengetahui apa saja kontribusi dan pengaruh pemikiran Ashgar Ali Engineer dalam membangun peradaban Islam.
- Memahami berbagai pendangan Ashgar Ali Engineer terhadap Islam.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. BIOGRAFI SINGKAT ASHGAR ALI ENGINEER
Asghar Ali Engineer adalah seorang Muslim India. Ia
adalah seorang pemikir, penulis dan aktivis sekaligus. Pemikirannya yang paling
dikenal adalah mengenai Islam dan Teologi Pembebasan. Asghar lahir pada
10 Maret 1939 di Salumbar, Rajastan,
India. Ayahnya, Shaikh Qurban Hussain adalah seorang ulama pemimpin kelompok
Daudi Bohras.
Sewaktu belajar Tafsir dan Ta’wil Al-Qur’an, Fiqh, Hadis, dan Bahasa Arab, ia
juga banyak membaca karya-karya Bettrand Russel dan Karl Marx. Ia mengaku telah
membaca buku Das Kapital karya Marx. Bacaan ini terbukti sangat berpengaruh
dalam cara dia menganalisis dan membahasakan gagasannya dengan bahasa-bahasa
“khas kiri” seperti ketidakadilan, penindasan, revolusi, perubahan radikal, dan
sebagainya.
Ia mendapatkan gelar kesarjanaan di bidang tekhnik
sipil dari Vikram University, Madhya Pradesh. Selama 20 tahun ia sempat menjadi
pegawai Kota Mumbay sampai memilih menjadi aktivis gerakan Bohra pada tahun
1972. Pada tahun 1980, ia membentukInstitute of Islamic Studies, di
Mumbai, guna mendorong pandangan Islam Progresif di India. Pada tahun
1993 ia mendirikan Center for Study of Society and
Secularism untuk mempromosikan kerukunan komunal (agama)
.
Pemahaman keagamaan Asghar Ali, terkait kelompok
Daudi Bohras ini. Daudi Bohras adalah sekte Syi’ah Isma’iliyah yang dipimpin
oleh Imam sebagai pengganti Nabi. Saat ini Kepemimpinannya dilanjutkan oleh
para Da’i. Untuk diakui sebagai seorang Da’i harus mempunyai 94 kualifikasi
yang diringkas dalam 4 kelompok: (1) kualifikasi-kualifikasi pendidikan; (2)
kualifikasi-kualifikasi administratif; (3) kualifikasi-kualifikasi moral dan
teoritikal, dan (4) kualifikasi-kualifikasi keluarga dan kepribadian. Yang
menarik adalah bahwa di antara kualifikasi itu seorang Da’i harus tampil
sebagai pembela umat yang tertindas dan berjuang melawan kezaliman. Asghar Ali
adalah seorang Da’i.
Daratan India tempat
Engineer lahir dikenal sebagai lahan produktif bagi tumbuhnya
pemikiran-pemikiran kritis dan liberal. Tahun kelahirannya pun dapat dipastikan
bahwa kondisi sosio-politik di India saat itu sedang diwarnai ketegangan antara
Hindu dan Muslim dalam perebutan otoritas politik. Sebab perseteruannya :
- Munculnya kebijakan politik yang memberlakukan sistem pemilihan yang membagi India menjadi komunitas Muslim dan Hindu yang dijalankan Inggris.
- Adanya sikap saling curiga dan kesalah pahaman antara Muslim dan Hindu. Pemuka Muslim cemas, Hindu sebagai kekuatan mayoritas akan mengeksploitasi dan merendahkan pihak Muslim. Sedangkan pemuka Hindu, menduga bahwa pihak Muslim tengah mencari kesempatan untuk meneguhkan kembali supremasi politik mereka di India.
Dengan memahami posisi ini, tidak heran
mengapa Asghar Ali sangat peduli dalam menyoroti kezaliman dan penindasan.
Baginya, orang yang benar-benar religius
akan sensitif terhadap
penderitaan orang lain, terutama penderitaan orang-orang yang tertindas.
Seorang religius
akan menentang ketidakadilan. Orang yang diam dan membisu ketika melihat
ketidakadilan dan penindasan, menurut Asghar tidak pantas disebut religius. Dari telaah
kesejarahan Asghar Ali menyimpulkan bahwa Nabi Muhammad sebagai sosok yang religius, adalah seorang
revolusioner yang berjuang untuk melakukan perubahan-perubahan secara radikal
dalam struktur masyarakat pada zamannya.
Realitas masyarakat Muslim India tersebut menimbulkan
keprihatinan tersendiri bagi Engineer. Karena itu, Ia mencanagkan teologi pembebasan
dalam konteks pemikiran Islam. Konstruksi pemikiran yang dibangunnya adalah
upaya untuk membela kaum tertindas. Selain itu, eksistensinya sebagai pemimpin
(da’i) Syi’ah Isma’iliyyah mengharuskan Ia tampil sebagai pembela umat yang
tertindas dan berjuang melawan kedzaliman.
B. PENINDASAN DALAM PEMBANGUNANISME
Menurut Engineer, agama
bisa menjadi candu / sebaliknya menjadi kekuatan yang revolusioner tergantung
pada :
- Realitas kondisi sosio-politik
- Subjek yang bersekutu dengan agama, kaum revolusioner / pro status quo
Artinya, performa agama
sangat tergantung pada subjek yang memaknainya dalam realitas sosio-politis
yang dihadapi. Bila dimaknai sebagai sesuatu yang transformatif dan progresif,
maka agama pun akan tampil demikian, begitupula sebaliknya.
Agama dengan perangkat
teologisnya yang mampu menjadi kekuatan revolusioner dan transformatif-progresif
harus dikedepankan dalam konteks masa kini. Sebaliknya, bentuk teologi yang
menyimpang dari eksistensi agama yang sesungguhnya yaitu teologi yang mendukung
status quo mesti dihancurkan, dan
diganti dengan teologi pembebasan.
Engineer berpendapat
bahwa “pembahasan teologi lama diperlukan untuk mengembangkan sebuah teologi
pembebasan”. Realitas pemikiran, keterbelakangan, dan ketertindasan masyarakat
bukan takdir, tetapi akibat dari struktur yang sistemik menciptakan
kondisi-kondisi tersebut. [1]
C. DUNIA ISLAM DAN KRISIS
MODERNISME
Setiap masyarakat perlu
mengalami reformasi dan perubahan. Tetapi para pemimpin masyarakat, wakil status quo, menentang keras gerakan
reformasi dan perubahan karena akan mencabut kepemimpinan mereka. Mereka yang
mendukung perubahan dicela sebagai bid’ah, tidak beriman, pengada-ada dan
melanggar kesucian agama.
Masyarakat kebanyakan
hanyalah mengikuti. Jadi seorang pembaharu yang akan melawan kepercayaan yang
cukup kuat berakar perlu penyampaian persuasif. Sehingga, harus memiliki
pengetahuan tentang kepercayaan tersebut, dan pengetahuan tentang hal yang
dilawannya.
Seseorang yang
mengetahui ajaran agama mendalam dan memiliki keyakinan bersih dan kuat, tidak
akan pernah membiarkan tren-tren ini berkembang. Ia berjuang demi perubahan dan
pembaharuan yang sehat, apapun resikonya. Baginya, nilai hidup yang tertinggi
adalah lebih penting daripada mencari kenikmatan duniawi semata.
Serangan pada gedung
WTC di New York, 11 September 2001 makin memperpuruk persoalan dan orang-orang
terlanjur percaya bahwa Islam menentang modernitas.
Pikiran yang salah,
jika modernitas diterima oleh agama lain tanpa pergolakan. Semua agama
mengalami krisis modernitas kendati tingkat perbedaannya bervariasi.
Memang benar jika dunia
Islam pada umumnya terlambat menerima modernitas. Sedang masyarakat atau agama
lain lebih dahulu menerima atau tanpa perlawanan yang berarti.
Islam umumnya dipeluk
oleh kelompok masyarakat miskin dan lemah di berbagai negara. Bagi lapisan
masyarakat yang rentan seperti ini, agama lebih merupakan hiburan batin dan
balsam spiritual ketimbang rasionalitas dan modernitas.
Banyak ulama muslim
juga berangkat dari lapisan masyarakat miskin dan terbelakang. Dan mereka pun
masih menganut teologi abad pertengahan, dimana suatu kelompok yang menyimpang
atau melawan disebut sebagai bid’ah. Padahal, Qur’an tidak membatasi kebebasan
berpikir. Sebaliknya, Al-Qur’an mendorong ilmu pengetahuan yang dikaitkan
dengan istilah cahaya (nur), dan kebodohan (jahl) dengan kegelapan. Ilmu adalah
kata kunci Qur’an. Demikian juga, ilmu tidak mungkin tanpa penyelidikan bebas.
Proses kreatif dan kebebasan intelektual merupakan syarat penting untuk menjadi
modern.
Dibutuhkan revolusi demokrasi
yang luas dalam dunia Islam. Kelas-kelas penguasa negara-negara Islam masih
bergantung pada dukungan dari Barat, khususnya kepentingan politik-ekonomis
Amerika Serikat. Mereka menyokong penguasa otoriter dan berkepentingan dengan
mempertahankan struktur kekuasaan otoriter dan budaya penghambaan. Demokrasi
liberal di dunia Islam akan melukai kepentingan ekonomi mereka. Hal ini yang
mencegah revolusi demokratis di banyak negara-negara Islam. Negara-negara
seperti Iran masih terpaku dengan teokrasi, membatasi kebebasan pemikiran.
Proses globalisasi lebih banyak memperkuat dominasi ekonomi Barat dan
menciptakan budaya hegemoni Amerika, membulldozer seluruh identitas lain yang
sedang berproses. [2]
Pada konteks
ke-Indonesia-an, Engineer melihat realita yang ada di Indonesia. Indonesia di
bawah pemerintahan diktator militeristik yang cukup lama dan seluruh ekspresi
perbedaan pendapat ditekan dengan kejam. Akhirnya, masyarakat dengan cepat
mengekspresikan perbedaan mereka. Tetapi, sekarang militer telah ditumbangkan
dan rakyat bebas untuk berdemonstrasi menggerakkan orang-orang pergerakan yang
ada di permukaan.
Indonesia merupakan negara
muslim terbesar dan orang muslim di negara ini telah mendapatkan hak-hak
politiknya untuk pertama kali dalam beberapa dekade terakhir. Kebangkitan Islam
sama sekali bukanlah sebuah fenomena negatif. Saat ini, masyarakat Indonesia
terpolarisasi diantara kelompok fundamentalisme dan kelompok moderat. Islam
ortodoks di Indonesia juga mengakar kuat tetapi hal ini untuk menghadapi
tantangan Islam liberal. [3]
D. TEOLOGI PEMBEBASAN DALAM PANDANGAN ISLAM
Teologi pembebasan menurut
Engineer :
1. Dimulai dengan melihat kehidupan manusia
di dunia dan akherat
2. Teologi tidak menginginkan status quo yang melindungi golongan kaya
yang berhadapan dengan golongan miskin
3. Teologi pembebasan memainkan peranan
dalam membela kelompok yang tertindas dan tercabut hak miliknya, serta
memperjuangkan kepentingan kelompok ini dan membekalinya dengan senjata
ideologis yang kuat untuk melawan golongan yang menindasnya
4. Teologi pembebasan tidak hanya mengakui
satu konsep metafisika tentang takdir dalam rentang sejarah umat Islam, namun
juga mengakui konsep bahwa manusia itu bebas menentukan nasibnya sendiri.
Dalam pengertian
metafisis dan di luar proses sejarah, Engineer memiliki pemahaman bahwa teologi
sangat memberi ruang yang bebas kepada manusia. Oleh karena itu pembicaraan
dalam teologi sebenarnya penuh dengan ketidakjelasan metafisis dan
masalah-masalah yang abstrak. Karakteristik teologi yang seperti ini telah
memperkuat kemapanan, dan mengakibatkan para teolog menjadi berpihak pada status quo. Bahkan sampai beranggapan
bahwa semakin teologi itu tidak jelas secara metafisis, maka cenderung akan
semakin memperkuat status quo.
Jika agama masih
ingin mendapat tempat di hati kelompok yang tertindas dan lemah, perlu
dikembangkan teologi pembebasan. Agama tradisional jika diformulasikan dalam
teologi pembebasan, dapat memainkan peran yang sentral sebagai praksis yang
revolusioner , dibanding dengan agama yang hanya berupa upacara-upacara ritual
yang tidak bermakna.
Agama dalam
bentuk yang tradisional hanyalah sebuah ilusi, namun jika ditampilkan dalam
bentuk yang membebaskan dapat menjadi kekuatan yang mengagumkan.
Dengan demikian,
kedatangan Islam adalah untuk merubah status
quo serta mengentaskan kelompok yang tertindas dan dieksploitasi. Masyarakat yang sebagian anggotanya
mengeksploitasi sebagian anggota lainnya yang lemah dan tertindas, tidak dapat
disebut sebagai masyarakat Islam, meskipun mereka menjalankan ritualitas islam.
Hadits lain mengatakan bahwa sebuah Negara dapat bertahan hidup walau di
dalamnya ada kemiskinan, namun tidak bisa bertahan jika di dalamnya terdapat
penindasan.
Allah SWT menegaskan
bahwa keadilan merupakan ukuran tertinggi suatu masyarakat.
a).
“Katakanlah : ‘Tuhanku memerintahkan supaya kamu berbuat adil’ “ (Q.S 7 : 29)
b).
“Sungguh, Allah mencintai orang yang berbuat adil” (Q.S 49 : 9)
c).
“Berlakulah adil, dan itu lebih dekat kepada taqwa” (Q.S 5 : 8)
Oleh karena itu,
arti taqwa di dalam Islam bukan hanya menjalankan ibadah ritual saja. Tanpa
keadilan sosial, tidak akan ada ke-taqwa-an. Sayangnya, Islam yang bersifat
revolusioner ini segera menjadi agama yang kental dengan status quo setelah Nabi Muhammad saw meninggal dunia. Sehingga
selama abad pertengahan, Islam sarat dengan praksis feodalistik dan para ulama
ikut menyokongnya. Mereka hanya menulis tentang masalah furu’iyah dalam syariat,
tapi mengecilkan arti vital Islam dalam menciptakan keadilan sosial dan kepedulian Islam yang aktif terhadap
kelompok lemah dan tertindas.
Sehingga sampai
sekarang, Islam yang diterima masyarakat kental dengan status quo. Maka dari itu, yang sangat dibutuhkan sekarang ini
adalah menghapus sistem kapitalisme yang didasarkan pada eksploitasi sesama
manusia (jika semangat islam masih menjadi ruh bagi masyarakatnya).
Selanjutnya akan
dibahas aspek teoritis yang penting dan relevan dengan teologi pembebasan dalam Islam. Masa awal
perkembangan Islam (pemerintahan 4 khalifah pertama) disibukkan dengan
perjuangan untuk mempertahankan Islam dan menyebarluaskannya ke jazirah Arab.
Pada masa itu, manusia dalam bekerja merasa yakin dapat meraih tujuan hidup dan
menggapai masa depannya. Manusia memahami dirinya bukan sebagai orang yang
tidak berdaya dan ditentukan oleh pihak di luar dirinya. Kehendak Allah SWT dimengerti
sebagai puncak inspirasinya, kediriannya, dan kedalamannya. Tema-tema
ketidakberdayaan manusia, determinasi dan ketergantungan manusia hanya muncul
ketika manusia dimanjakan oleh kekuasaan yang mapan, yang menguatkan status quo.
E. AGAMA, IDEOLOGI DAN TEOLOGI PEMBEBASAN DALAM
PANDANGAN ISLAM
Menurut
Engineer, agama harus dilihat dalam konteks sosiologis dan juga filosofis.
Agama dapat menjadi candu atau menjadi kekuatan yang revolusioner tergantung
pada kondisi sosio-politik yang nyata dan tergantung pada siapa yang akan
bersekutu dengan agama, apakah kaum revolusioner atau status quo. Oleh karena itu, mempelajari agama harus dipandang
sebagai kegiatan intelektual, spiritual dan historis yang serius.
Teologi
pembebasan
Jika agama
secara serius dianggap sebagai kebaikan dan berdiri sepihak dengan revolusi,
kemajuan dan perubahan maka agama harus dilepaskan dari aspek-aspek teologis
yang yang bersifat filosofis, yang berkembang mencapai puncaknya hingga aspek
filosofis ini menjadi bagian utama dari agama yang bukannya mendukung kaum yang
tertindas tetapi mendukung kelompok penindas. Umumya teologi pada masa sekarang
ini dikuasai oleh orang-orang yang sangat mendukung status quo, sehingga teologi cenderung sangat ritualis, dogmatis dan
bersifat metafisis yang membingungkan sehingga agama menghipnotis masyarakat.
Teologi hanya berupa seikat ritual yang tidak memiliki ruh, tidak menyentuh
kepentingan kaum tertindas dan para pekerja kasar, serta menjadi latihan
intelektual dan metafisis yang abstrak bagi kalangan kelas menengah.
Karena itulah,
agama menjadi penyebab langgengnya status
quo. Ritual yang tidak memiliki ruh keagamaan dan juga abstraksi metafisis
ini harus disingkirkan dari agama. Agama harus menjadi sumber motivasi bagi
kaum tertindas untuk merubah keadaan mereka dan menjadi kekuatan spiritual
untuk mengkomunikasikan dirinya secara berarti dengan memahami aspek-aspek
spiritual yang lebih tinggi dari realitas ini.
F.
ISLAM
DAN TEOLOGI PEMBEBASAN
Islam adalah
agama dalam pengertian teknis dan sosial-revolutif yang menjadi tantangan yang
mengancam struktur yang menindas pada saat ini di dalam maupun di luar Arab.
Tujuan dasarnya adalah persaudaraan yang universal, kesetaraan, dan keadilan
sosial.
Dalam Q.S 49 :
13 secara jelas membantah semua konsep superioritas rasial, kesukuan,
kebangsaan atau keluarga, dengan satu penegasan dan seruan akan pentingnya
kesalehan. Al-Qur’an tidak ragu-ragu untuk mempercayakan kepemimpinan seluruh
dunia kepada mustad’ifin, yakni kaum
yang lemah, bahkan mereka itu adalah pemimpin dan pewaris dunia Q.S 28 : 5.
Al-Qur’an juga
memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk berjuang membebaskan
golongan masyarakat lemah dan tertindas. Q.S 4 : 75. Serta di Q.S 8 : 39, kaum
muslim diperintahkan untuk berperang sampai tidak ada lagi penindasan. Para
penindas dan eksploitator menganiaya golongan lemah dan dengan seenaknya
menggunakan kekerasan untuk mempertahankan kepentingan mereka. Tidak mungkin
kita dapat membebaskan penganiayaan ini tanpa melakukan perlawanan.
Al-Qur’an juga
mengecam Fir’aun sebagai penindas dan sombong, dan sekali lagi menyatakan bahwa
orang-orang yang lemah adalah pewaris dunia Q.S 7 : 137. Dari ayat ini dapat
dicermati bahwa Allah SWT tidak memberi toleransi kepada struktur yang menindas
dan menganiaya orang-orang yang lemah. Ya, Islam memang menganjurkan untuk
menjadi kaya, sesuai dengan Q.S 10 :93, 16 : 73, 17 : 70, 20 : 81, 23 : 51, 40
: 94, 45 : 16. Akan tetapi, konteks ayat-ayat tersebut secara jelas menunjukkan
untuk kesehatan dan kebaikan sosial, yang berasal dari kata kunci tayyib, yang
berarti baik, menyenangkan, menyehatkan dan nyaman. Di sini terlihat bahwa
Allah SWT memperingatkan orang-orang yang memakan barang-barang yang baik agar
tidak berlebihan. Karena berlebihan dapat menimbulkan murka Allah SWT jika
sebagian kecil orang kaya di suatu masyarakat mengkonsumsi barang secara
berlebihan, sedangkan yang lainnya mengalami kekurangan. Maka Allah SWT akan
menimpakan bencana kepada masyarakat tersebut, seperti dalam Q.S 17 : 16.
Karena itu,
orang-orang yang telah mampu memenuhi kebutuhan pokoknya, harus memberikan
sebagian hartanya kepada fakir miskin. Q.S 2 :219.
Allah SWT
membenarkan negara yang berkeadilan walaupun dipimpin orang kafir, dan
menyalahkan negara yang tidak menjamin keadilan meskipun dipimpin oleh seorang
muslim. Seseorang belumlah dikatakan memahami ajaran Islam dan menangkap
intinya, jika mengesampingkan konsep keadilan sosio-ekonomi, persamaan jenis
kelamin, ras dan kebebasan serta menghargai harkat dan martabat manusia.[4]
G. TEOLOGI DAMAI ISLAM
Al-Qur’an memperbolehkan jalan kekerasan dalam
situasi yang tidak terelakkan, namun memerintahkan damai sebagai sebuah norma.
Agama-agama besar dunia datang untuk menegakkan keadilan dan kedamaian.
Kekerasan tidak pernah menjadi bagian dari agama manapun, begitu juga islam.
Menurut Qur’an, (Q.S 95
: 4-5). Allah SWT menghendaki damai, dan menciptakan kita demi tujuan itu,
dalam bentuk yang terbagus. Tetapi, tamak kita terhadap harta dan pangkat,
membuat kita rendah menjadi alat agresi dan kekerasan. (183)
Akar kekerasan,
terletak pada ketamakan manusia, dalam (Q.S 2 : 219). Jelas dari ayat ini bahwa
anda menafkahkan untuk diri anda sesuai dengan kebutuhan pribadi dan
mensedekahkan selebihnya kepada orang lain yang membutuhkan. Hal yang sama,
Qur’an menggambarkan dalam konteks lain bahwa kekayaan hendaknya tidak berputar
diantara orang kaya saja. (Q.S 57 : 7), dan (Q.S 9 : 34) (184)
Penting untuk dicatat
bahwa Qur’an menarik fokus perhatian kita lebih dari sekali pada konflik antara
mustakbirun dan mustad’ifun, yaitu antara yang sombong dan kuat melawan yang lemah
dan teraniaya. Pihak pertama diwakili oleh Namrud dan Fir’aun, dan yang kedua
oleh Ibrahim dan Musa. Ibrahim dan Musa adalah pembebas, yang membebaskan
orang-orang yang ditindas, dengan tidak melalui kekerasan tetapi lewat
perjuangan, membawa mereka keluar dari situasi dan tatanan tidak adil. Selalu
saja akan ada perjuangan antara penganiaya dan teraniaya, antara yang kuat dan
yang lemah. Namun tidak dengan cara kekerasan. (185-186)
H. ISLAM DAN DAMAI
Islam merupakan dari
akar kata salam (damai). Islam berarti penegakan kedamaian dan tunduk kepada
kehendak Allah SWT. (192)
Islam hendak
menciptakan kedamaian dari atas bumi dengan mengutuk penumpahan atau peredaran
kekayaan diantara orang-orang kaya. Surah 104, menegaskan bahwa pemilik harta
berlebih-lebihan akan dibakar oleh Allah SWT dalam api neraka yang
menyala-nyala. (193). Dunia muslim penuh dengan ketidakadilan dan kekerasan.
Islam berbuat terbaik untuk menekankan keadilan dan kedamaian tetapi sebagian
orang, khususnya pemimpin muslim, masih berlebih-lebihan dengan harta dan
kekuasaan. Karena itu, kesalahan atas kekerasan terletak pada pribadi muslim
ini, bukan pada Islam. Adapun Islam, adil dan damai adalah bagian yang tak
terpisahkan dari ajarannya. Terlebih lagi, bagi berjuta-juta muslim, Islam
adalah pengalaman spiritual. Shalat, puasa, berhaji dan praktek spiritual
lainnya untuk merasakan kepuasan. Muslim semacam ini merupakan mayoritas
terbanyak. Mereka tidak punya kaitan dengan politik, kekerasan atau menggunakan
Islam untuk kepentingan pribadi. Mereka inilah, muslim yang mencari kedamaian,
menganggap Islam sebagai sumber terbesar kedamaian dalam diri. (194)
I.
KONSEP CINTA KASIH DALAM ISLAM
Allah SWT mengutus Rasul
sebagai wujud kasihNya untuk alam. (Q.S 21 : 107). Rasulullah yang mewakili
kasihNya dan selanjutnya diakui sebagai rahmatan
lil ‘alamin. Jadi, pengikut sejati Nabi harus menjadi seorang yang pengasih
dan penyayang untuk seluas mungkin umat manusia. Siapapun yang lalim, ia tidak
memiliki kepekaan terhadap penderitaan orang lain, ia bukan pengikut Nabi
sejati. Celakanya, muslim lupa titik tekan Qur’an pada kualitas kasih tersebut.
Sejumlah kelompok yang kecewa selalu berbicara tentang jihad dan kekuasaan. (196-197)
Qur’an juga hendak
menyingkirkan mereka yang sombong karena kekayaan dan kekuasaan, dan Qur’an
memperkuat yang lemah, sehingga tidak ada lagi kesengsaraan di muka bumi (Q.S
28 : 5) (199)
Lantas, muslim sejati
adalah mereka yang memperlihatkan cinta yang rata dan kasih sayang untuk
seluruh umat manusia apapun tradisi kepercayaan yang mereka punyai. (203)[5]
J. MUHAMMAD SANG PEMBEBAS
Pembebasan
dalam Bidang Sosial
Nabi
Muhammad saw menikah pada usia 25 tahun, Ia mulai melakukan perenungan di gua
Hira untuk memikirkan kondisi sosial, religius, budaya dan ekonomi di
sekilingnya. Pada usia 40 tahun Nabi mengejutkan kota Mekah untuk membebaskan
masyarakat Mekah dan seluruh umat manusia dari penderitaan, takhayul,
penindasan, perbudakan dan ketidakadilan.
Perenungan-perenungan Nabi Muhammad saw di gua Hira, kemudian mendapat wahyu (QS.96:1-5) menjadi titik mula lahirnya ISLAM Agama Allah yang besar ini.
Ayat suci yang pertama kali turun dimulai dengan kata: “Iqro”. Terjemah Ayat 1: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.” Ini berarti manusia harus belajar dan menguasai ilmu pengetahuan tentang penciptaan. Terjemah Ayat 3: “Yang mengajar (manusia) dengan pena.” Sebagai catatan, bahwa bangsa Arab tidak mengenal apa itu pena, baca tulis itu sangat jarang. Al Qur’an menekankan menggunakan pena, karena dengan pena ilmu pengetahuan ditransformasikan dari satu tempat ke tempat lainnya, dan dari satu generasi ke generasi lainnya. Ini menunjukan bahwa Nabi Muhammad saw membebaskan masyarakat Arab dari buta huruf dan kebodohan.
Perenungan-perenungan Nabi Muhammad saw di gua Hira, kemudian mendapat wahyu (QS.96:1-5) menjadi titik mula lahirnya ISLAM Agama Allah yang besar ini.
Ayat suci yang pertama kali turun dimulai dengan kata: “Iqro”. Terjemah Ayat 1: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.” Ini berarti manusia harus belajar dan menguasai ilmu pengetahuan tentang penciptaan. Terjemah Ayat 3: “Yang mengajar (manusia) dengan pena.” Sebagai catatan, bahwa bangsa Arab tidak mengenal apa itu pena, baca tulis itu sangat jarang. Al Qur’an menekankan menggunakan pena, karena dengan pena ilmu pengetahuan ditransformasikan dari satu tempat ke tempat lainnya, dan dari satu generasi ke generasi lainnya. Ini menunjukan bahwa Nabi Muhammad saw membebaskan masyarakat Arab dari buta huruf dan kebodohan.
Minimnya
masyarakat Arab yang mampu membaca dan menulis, berdampak terhadap cara
pandangnya. Bangsa Arab begitu terkungkung oleh cara pandang kesukuannya. Cara
pandang ini kemudian secara keseluruhan dihapus oleh ajaran Al Qur’an. Al
Qur’an mengajarkan bahwa semua manusia berasal dari keturunan yang sama, dan
tidak ada perbedaan karna suku, bangsa, ras atau warna kulit. Terjemahan
Al-Hujurat QS.49:13 berbunyi: Wahai manusia! Sungguh, kami telah menciptakan
kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian kami jadikan kamu
berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang
paling mulia di antara kamu di sisi Allah SWT ialah orang yang paling bertaqwa.
Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti. Nabi Muhammad saw memberikan
teladan untuk tidak membeda-bedakan manusia. Nabi menerapkan ajaran ayat
tersebut dengan cara mengangkat seorang budak negro, Bilal menjadi Muazzin,
sebuah kehormatan yang didambakan oleh banyak orang Arab. Nabi Muhammad saw memberikan
teladan agar manusia tidak membeda-bedakan.
Al Qur’an secara nyata juga menyatakan bahwa hak dan kewajiban perempuan sama dengan laki-laki ( QS Al-Baqarah : 228 ). Nabi Muhammad saw berjuang untuk mengangkat derajat hidup wanita. Misalnya ayat QS 4:1-3 yang menyatakan bahwa “Jika kamu khawatir tak berlaku adil terhadap yatim-yatim itu, maka kawinilah wanita-wanita itu yang kamu senangi dua, tiga, atau empat. Jika kamu khawatir tak berlaku adil, maka seorang saja. Kalau perempuan dikatakan menderita karena suaminya boleh menikahi lebih dari satu wanita (sampai empat), itu hanyalah sebuah stigma. Tidak bisa disangkal stigma ini merendahkan status perempuan, yang sesungguhnya sederajat dengan laki-laki. QS 4:1-3 bukan menganjurkan poligami. Poligami bukan perintah, bukan anjuran, tapi salah satu opsi dalam situasi darurat. Keadilan tetap menjadi acuan tertinggi. Dari ayat tersebut jelas, bahwa menikahi lebih dari satu perempuan demi kesenangan semata tidaklah dibenarkan. Ini membuktikan bahwa Nabi Muhammad saw sangat menghargai fungsi dan kedudukan wanita.
Al Qur’an secara nyata juga menyatakan bahwa hak dan kewajiban perempuan sama dengan laki-laki ( QS Al-Baqarah : 228 ). Nabi Muhammad saw berjuang untuk mengangkat derajat hidup wanita. Misalnya ayat QS 4:1-3 yang menyatakan bahwa “Jika kamu khawatir tak berlaku adil terhadap yatim-yatim itu, maka kawinilah wanita-wanita itu yang kamu senangi dua, tiga, atau empat. Jika kamu khawatir tak berlaku adil, maka seorang saja. Kalau perempuan dikatakan menderita karena suaminya boleh menikahi lebih dari satu wanita (sampai empat), itu hanyalah sebuah stigma. Tidak bisa disangkal stigma ini merendahkan status perempuan, yang sesungguhnya sederajat dengan laki-laki. QS 4:1-3 bukan menganjurkan poligami. Poligami bukan perintah, bukan anjuran, tapi salah satu opsi dalam situasi darurat. Keadilan tetap menjadi acuan tertinggi. Dari ayat tersebut jelas, bahwa menikahi lebih dari satu perempuan demi kesenangan semata tidaklah dibenarkan. Ini membuktikan bahwa Nabi Muhammad saw sangat menghargai fungsi dan kedudukan wanita.
Keadilan
Ekonomi
Al
Qur’an sangat menekankan keadilan distributif. Al Qur’an tidak menginginkan
harta kekayaan itu hanya berputar diantara orang-orang kaya saja (QS.57:7).
Dalam QS.9:34, Al Qur’an memberikan beberapa peringatan kepada mereka yang suka
menimbun harta tetapi tidak membelanjakan di jalan Allah SWT. Al Qur’an juga
mengajarkan untuk menyumbangkan kelebihan hartanya (QS.2:219).
Bahkan
Al Qur’an dengan tegas melarang riba dan memperingatkan siapa saja yang
mengadakannya akan diperangi oleh Allah SWT dan RasulNya (QS.2:275-278 dan
QS.30:39).
(41-54)[6]
K. ISLAM SEBAGAI IDEOLOGI PEMBEBASAN
Islam adalah agama
pembebasan. Diantara misi penting Islam adalah membela, menyelamatkan,
membebaskan, memuliakan dan melindungi orang-orang tertindas, sehingga kelompok
pertama yang mengapresiasi kehadirannya adalah mereka yang tertindas, miskin
dan para budak (96)
Performa Islam sebagai
agama revolusioner yang mampu melakukan perubahan monumental dalam ranah sosial,
ekonomi, atau keyakinan teologis merupakan etos paradigmatik yang mesti digali
dalam konteks kekinian. Asal usul historis Islam bisa membantu untuk memahami
potensi revolusionernya (97)
Sehingga perlu
dilakukan dialektika kreatif terhadap realitas sosiologis yang dialami oleh
masyarakat. Sebagaimana teologis modern revolusioner yang harus memeperhatikan
kondisi yang ada agar mampu mendorong terciptanya kemajuan dan perubahan bagi
masyarakat miskin dan tertindas, agama juga harus berkorelasi dengan realitas
sosiologis (98).
L. DARI DEKONSTRUKSI KE
REKONSTRUKSI
Engineer ingin
menunjukkan bahwa untuk mebangun teologi revolusiner diperlukan praksis sosial.
Kesadaran agama yang hanya berhenti pada tatanan intelektual tidak akan
memanifestasikan teologi revolusioner, teologi yang membebaskan.
Teologi klasik memiliki 2 kelemahan :
- Wataknya lebih bersifat intelektualistik, metafisis, spekulatif.
- Lekatnya relasi teologi klasik dengan politik kelompok status quo.
Kelemahan yang ada
dalam teologi klasik tersebut harus didekonstruksi. Dalam masyarakat muslim
yang dihadang perkembangan ilmu pengetahuan dan perubahan-perubahan teknologis
yang begitu dramatis di samping berbagai persoalan kemanusiaan seperti
penindasan, keterbelakangan, dan ketidakadilan, secara ekonomi, sosial dan
politik maka tawaran teologi pembebasan yang mengedepankan kesadaran praksis
sosial adalah hal yang utama. Problem rakyat tidak selesai hanya dengan
mengandalkan pendekatan intelektual dan rasional tetapi harus berupa
gerakan-gerakan nyata, yakni sebuah teologi pembebasan.
Teologi pembebasan,
lebih dari sekadar teologi rasional. Artinya, teologi pembebasan tidak
terkukung dalam area pemikiran murni dan spekulatif yang ambigu, tetapi
melebarkan sayap paradigma praksis sosial sebagai instrumen paling kokoh untuk
membebaskan umat manusia dari penindas, memberi motivasi bertindak dengan
semangat revolusioner dalam berjuang menghadapi tirani, eksploitasi dan
penganiayaan. Teologi pembebasan memberikan keyakinan posibilitas untuk
mengubah kondisi-kondisi agar menjadi lebih baik. (99-100)
Oleh karena itu,
teologi klasik harus diubah dan diganti. Jika agama secara serius dianggap
sebagai kebaikan dan berpihak dengan revolusi, kemajuan dan perubahan, agama
harus dilepaskan dari aspek-aspek teologis yang bersifat filosofis. Untuk
mengubah teologi klasik menjadi teologi praksis pembebasan diperlukan : (101)[7]
a). Tauhid
Teologi
pembebasan tidak hanya mengartikan tauhid sebagai keesaan Tuhan, tetapi
memaknai sebagai kesatuan manusia. Konsep tauhid ini sangat dekat dengan
semangat Al-Qur’an untuk menciptakan keadilan dan kebajikan (al-‘adl wa al ‘ahsan). Sehingga tauhid
merupakan iman kepada Allah SWT yang tidak bisa ditawar dan konsekuensinya
adalah menciptakan struktur yang bebas eksploitasi.(11)[8]
b). Jihad
Islam yang
berorientasi praksis disebutkan dengan tegas di dalam Al-Qur’an. “Tiadalah sama
orang mukmin yang duduk saja di rumah (kecuali yang sakit), dan orang yang
berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya”. Kalimat selanjutnya, “Allah
menempatkan orang berjihad dengan harta dan jiwanya sederajat lebih tinggi dari
orang yang duduk saja di rumah” (Q.S 4 : 95)(9)
Jelas bahwa
jihad bukan untuk mengedepankan kepentingan pribadi atau mempertahankan status quo, namun demi kepentingan orang
yang tertindas dan lemah. Penderitaan dan kemiskinan betul-betul merupakan
negasi dari manusia sebagai sebaik-baiknya bentuk, yang akan menempatkannya ke
tingkat yang paling rendah. Arogansi kekuasaan, ketidakadilan, penindasan
terhadap yang lemah, pengekangan terhadap aspirasi masyarakat banyak,
diskriminasi, penumpukan kekayaan, pemusatan kekuasaan, dan lain sebagainya
akan mengarah pada struktur sosio-ekonomi yang menindas. Sehingga demi
menegakkan kebenaran, teologi Islam harus berjihad melawan segala hal yang
menyebabkan kemiskinan.(10-11)[9]
Dalam
teologi pembebasan, jihad bukan untuk melakukan perang (aggression), tapi jihad dimaknai sebagai berjuang dalam menghapus
eksploitasi, korupsi dan berbagai bentuk kezaliman. Perjuangan ini harus
dilakukan secara dinamis dan istiqamah hingga pengaruh destruktif sirna dari
muka bumi. (102)[10]
c). Iman
Iman berarti
selamat, damai, perlindungan, dapat diandalkan, terpercaya dan yakin. Iman yang sebenar-benarnya
mengimplementasikan semua itu. Iman kepada Allah SWT mengantarkan manusia kepada
perjuangan yang keras untuk menciptakan masyarakat yang berkeadilan. Al-Qur’an
memerintahkan orang-orang yang beriman agar berkeyakinan, berjuang melawan
ketidakadilan dan agar tidak berputus asa serta menyerah pasrah. Hal ini
merupakan bagian yang paling mendasar dalam teologi pembebasan.(12)[11]
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Hal mendasar yang dilakukan Engineer
adalah berusaha memaknai kembali atau memberi makna baru pada Islam untuk
membebaskan manusia dari segala bentuk ketertindasan, kezaliman, dan
keterbelakangan lewat teologi pembebasan. Menurut Engineer, ciri utama dari teologi pembebasan adalah
pengakuan terhadap perlunya memperjuangkan secara serius problem bipolaritas
spiritual-material kehidupan manusia dengan menyusun kembali menjadi tatanan
yang tidak eksploitatif, mengedepankan keadilan dan egaliter. Teologi Engineer
adalah teologi humanis, sebuah paradigma teologi praksis bagi manifestasi
pembebasan manusia, yakni realitas teologi yang berangkat dari upaya memaknai
kembali Islam demi kepentingan pembebasan manusia. (103-104)[12]
DAFTAR PUSTAKA
Engineer,
Asghar Ali. Islam dan Teologi Pembebasan.
2009. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Engineer, Asghar
Ali. Islam Masa Kini. 2004.
Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Engineer, Asghar
Ali. Liberalisasi Teologi Islam.
2004. Yogyakarta : Alenia.
Na’im, Abdullah
Ahmad, dkk. Pemikiran Islam Kontemporer.
2003. Yogyakarta : Jendela.
[1]
Abdullah Ahmad Na’im, dkk. Pemikiran Islam Kontemporer, (Yogyakarta : Jendela, 2003), hal. 85-95.
[4] Asghar Ali Engineer. Islam dan Teologi Pembebasan, (Yogyakarta
: Pustaka Pelajar, 2009), hal. 1-39.
[6] Asghar Ali Engineer. Islam dan Teologi Pembebasan, (Yogyakarta
: Pustaka Pelajar, 2009), hal. 41-54.
[7] Abdullah Ahmad Na’im, dkk. Pemikiran Islam Kontemporer, (Yogyakarta : Jendela, 2003), hal. 96-101.
[8] Asghar Ali Engineer. Islam dan Teologi Pembebasan, (Yogyakarta
: Pustaka Pelajar, 2009), hal. 11.
[9] Asghar Ali Engineer. Islam dan Teologi Pembebasan, (Yogyakarta
: Pustaka Pelajar, 2009), hal. 9-11.
[10] Abdullah Ahmad Na’im, dkk. Pemikiran Islam Kontemporer, (Yogyakarta : Jendela , 2003), hal.
102.
[11] Asghar Ali Engineer. Islam dan Teologi Pembebasan, (Yogyakarta
: Pustaka Pelajar, 2009), hal. 12.
[12] Abdullah Ahmad Na’im, dkk. Pemikiran Islam Kontemporer, (Yogyakarta : Jendela, 2003), hal. 103-104.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar