PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pemikiran
modern atau pembaharuan dalam Islam mengandung transformasi nilai yang mesti
berubah bahkan adakalanya diperlukan perombakan- perombakan terhadap struktur
atau tatanan yang sudah ada dan dianggap baku, sedangkan nilai- nilai tersebut
tidak mempunyai akar yang kuat berdasarkan sumber- sumber pokoknya Al Quran dan
Al Hadist.
Ada beberapa
tokoh yang berperan penting dalam upaya pembaharuan dalam Islam, antara lain
Tanzimat, Turki Muda, Zia Gokalp, Tawfik Fikert, dan juga Mustafa Kemal Ar
Taturk. Mustafa Kemal mempunyai peran yang paling penting di banding yang lain.
Pemahaman dia mengenai sekulerisme di sini merupakan perpaduan yang amat
kreatif terhadap ide- ide yang lainnya. Keislaman dan nasionalisme mengambil
pengejawantahan baru dalam idenya Mustafa Kemal. Sosok modernis yang belakang
disebut memang cerdas dalam membaur kepentingan yang berbeda. Dengan keberanian
sekularisasinya, kemal berhasil cemerlang menapaki kekuasaan politik dan
intelektual.
B.
Rumusan Masalah
Dalam makalah ini terdapat beberapa rumusan masalah, yaitu:
1. Apa yang dimaksud dengan sekulerisme?
2. Bagaimana keadaan Turki Usmani pra Sekulerisme?
3. Siapakah Mustafa Kemal Attaturk?
4. Bagaimanakah pandangan politik Mustafa Kemal?
5. Bagaimanakah Sekulerisme Mustafa kemal?
6. Apa saja dampak sekulerisme
di Turki?
7. Bagaimana evaluasi sekulerisme di Turki?
C.
Tujuan Makalah
1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan sekulerisme
2. Mengetahui keadaan Turki Usmani pra Sekulerisme
3. Mengetahui siapa Mustafa Kemal Attaturk
4. Mengetahui pandangan politik Mustafa Kemal
5. Mengetahui Sekulerisme Mustafa kemal
6. Mengetahui dampak
sekulerisme di Turki
7. Mengetahui evaluasi sekulerisme di Turki
BAB I
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Sekulerisme
Dalam “sejarah dan kebudayaan Islam
imperium Turki Usmani”, sekuler diartikan sebagai berikut, bahwa tidak ada
campur tangan agama atau mazhab agama seseorang dalam bentuk apapun atau agama
( Mazhab agama ) seseorang itu tidak boleh menjadi perintang untuk memperoleh
hak kemanusiaannya.
Sedangkan sekularisasi menurut
Muhammad Arkoun adalah sikap spirit dan merupakan kompetisi untuk menguasai
kebenaran atau mencapai kebenaran. Menurut beliau adalah sikap terhadap
pengetahuan yaitu sikap yang berupaya menjadi terbuka dan bebas sampai sejauh
mungkin, atau sampai batas yang memungkinkannya tidak hanya syarat - syarat
politis dan social, tetapi juga kemajuan metodelogi, pengetahuan dan teknik
yang mendominasi dalam suatu masa dan tempat.
Akan tetapi menurut Ahmad Syalaby
pengertian sekuler yang lebih populer berbeda dengan pengertian sekuler diatas,
karena pengertian sekuler yang lebih populer itu hampir sama dengan pengertian
atheis. Pengertian sekuler yang populerlah yang digalakkan di Turki pada masa
Mustafa Kemal.
B.
Keadaan Turki pra Sekulerisme
Kerajaan
Usmani di bawah kebijaksanaan Pemerintah Perkumpulan Persatuan dan Kemajuan
penjelmaan Turki Muda membawa Kerajaan Usmani (Turki) terjerat dalam Perang
Dunia I. Pemerintahan yang pro Barat ini memilih dan memihak Jerman sebagai
sekutunya.
Dalam
perang tersebut, Jerman adalah pihak yang menderita kalah. Kekalahan Jerman
sebagai sekutu Turki pada Perang Dunia I menyudutkan pemerintahan Perkumpulan
Persatuan dan Kemajuan di Turki pada pilihan yang sulit. Karena peristiwa dalam
negeri Turki akhirnya Kabinet Turki Muda mengundurkan diri dan selanjutnya
dibentuklah kabinet baru yang dipimpin Ahmed Izzet Pasya.
Para
pemuka kabinet yang mengundurkan diri seperti Talut Pasya, Enver Pasya dan
Jamel Pasya lari ke Eropa. Kemudian kabinet yang baru mengadakan perjanjian
dengan pihak yang menang dalam perang yakni Inggris, Prancis dan Amerika.
Dengan
demikian, kehadiran tentara sekutu tidak dapat ditolak, hingga menduduki bagian-bagian
tertentu dalam kota Istambul. Kemudian
pada tanggal 15 Mei 1919 datang kapal-kapal perang Inggris ,Prancis dan Amerika
yang diboncengi oleh tentara Yunani.
Yunani
bermaksud membangun kembali kerajaan lama.
Beberapa daerahnya telah beratus-ratus tahun dikuasai oleh Kerjaan
Usmani. Kemudian daerah-daerah di Eropa
Timur dan Arab juga timbul gejolak untuk memisahkan diri.[1]
C.
Biografi Mustafa Kemal
Mustafa
Kemal, seorang pemimpin Turki baru, yang menyelamatkan Kerajaan Usmani dari
kehancuran total dan bangsa Turki dari penjajahan Eropa. Ia adalah pencipta
Turki modern dan atas jasanya ia mendapat
gelar Attaturk (Bapak Turki).
Ia lahir di Salonika pada tahun 1881, orang tuanya Ali Riza bekerja
sebagai pegawai biasa di salah satu Kantor Pemerintah di kota itu. Ibunya bernama Zubeyde, seorang wanita yang
perasaan keagamaanya sangat dalam.
Tatkala
dipindahkan ke suatu desa di lereng gunung Olimpus, Ali Riza berhenti dari
pekerjaanya sebagai pegawai Pemerintah dan membuka lapangan perdagangan
kayu. Di daerah itu memang banyak
terdapat kayu. Tetapi dagangannya banyak
diganggu oleh kaum perampok yang berkeliaran di daerah itu. Ia pindah ke
perusahaan lain tapi gagal. Dalam keadaan
susah, ia ditimpa penyakit dan tidak lama kemudian meninggal dunia.
Pada
permulaan masa belajarnya, atas desakan ibunya, ia dimasukkan ke madrasah,
tetapi karena tidak senang belajar di sana, ia selalu melawan guru. Ia kemudian
dimasukkan orang tuanya ke sekolah dasar modern di Salonika. Selanjutnya, ia
memasuki Sekolah Militer Menengah atas usahanya sendiri. Dalam usia empat belas tahun, ia tamat dari
sekolah ini dan meneruskan pelajaran pada Sekolah Latihan Militer di
Monastiri. Pada tahun 1899, setelah
menyelesaikan pelajaran di Sekolah Latihan Militer, ia memasuki Sekolah Tinggi
Militer di Istambul. Ijazahnya ia
peroleh enam tahun kemudian dan ia mendapat pangkat kapten.
Ketika
belajar, Mustafa Kemal sudah mengenal politik melalui temannya yang bernama Ali
Fethi. Dialah yang mendorongya untuk
memperkuat dan memperdalam pengetahuan tentang bahasa Perancis sehingga ia
dapat membaca karangan filosof-filosof Perancis seperti Rousseau, Voltaire,
Ausguste Comte, Montesquie dan lain-lan.
Di samping itu , sejarah dan sastra juga menarik perhatiannya.
Tatkala
Mustafa Kemal belajar di Istambul, terjadi penolakan terhadap kekuasaan Sultan
yang absolut, yakni sultan Abdul Hamid.
Pada saat itu, Perkumpulan rahasia dari berbagai kalangan masyarakat
terbentuk. Mustafa beserta teman-temannya dari kalangan sekolah membentuk suatu komite rahasia dengan
menerbitkan surat kabar yang ikut mendukung kritikan terhadap pemerintah
absolut Sultan.
D.
Politik Mustafa Kemal
Setelah
selesai belajar, ia terjun dalam bidang politik. Dari kegiatan politik yang ia lakukan
menjadikan Mustafa bersama teman teman seperjuangan ditangkap dan selanjutnya
dimasukkan ke dalam penjara selama beberapa bulan. Setelah itu, ia bersama teman-temannya
diasingkan ke luar Istambul. Mustafa Kemal dan Ali Fuat dibuang Ke Suriah.
Selama
masa pembuangan, ia tidak melepaskan kegiatan politik dan sering mengadakan
pertemuan dengan para pemuka yang dibuang ke negeri ini.
Pada
tahun 1906 terbentuklah perkumpulan vaton(tanah Air). Mustafa Kemal menjabat sebagai perwira
sehingga dapat berkunjung ke kota-kota lain.
Untuk membentuk cabang-cabang di daerah lain, seperti Yaffa, Yerussalem
dan Bairut, ia tidak terlalu mengalami kesulitan, seingga ia menemukan daerah
yang strategis, yakni di Salonika.
Cuti
sakitnya yang diperolehnya, ia gunakan untuk mengunjungi kota kelahirannya.
Kesempatan itu juga tidak disia-siakan untuk membentuk cabang dari perkumpulan yang
didirikan di Damsyik. Hanya saja nama cabang di daerah kelahirannya diubah
menjadi varon ve Hurriyet (tanah air dan Kemerdekaan).
Selanjutnya
pada tahun 1907 Mustafa Kemal dipindahkan ke Salinika untuk bekerja sebagai
staf umum. Di daerah ini, perkumpulan
Persatuan dan Kemajuan telah terbentuk sekaligus merupakan pusat perkumpulan
persatuan dan kemajuan. Perkumpuan
Persatuan dan Kemajuan mempunyai pengaruh yang lebih besar di bandingkan
perkumpulan vaton ve Hurriyet. Dengan berbagai pertimbangan, Mustafa
turut menggabungkan diri dalam gerakan Perkumpulan Persatuan dan Kemajuan. Saat itu ia tidak memegang peranan yang
berarti karena belum dapat menandingi para seniornya seperti Enver, Talet dan
Jewal.
Pada
saat dilangsungkannya konferensi Perkumpulan Persatuan dan Kemajuan yang
diadakan di Salonika, ia diberi kesempatan untuk mengeluarkan pendapatnya, Mustafa memberi isyarat tetang bergabungnya
partai dan tentara menjadi satu dalam perkumpulan tersebut. Mustafa mempunyai pandangan bahwa:
Penggabungan tersebut tidak menguntungkan dalam suatu perjuangan. Agar negara dan Konstitusi dapat
dipertahankan, diperlukan tentara yang kuat di satu pihak dan partai yang kuat
di pihak lain. Perwira yang harus tunduk kepada kepala dapat menjadi prajurit
yan tidak baik dan sekaligus juga politikus yang tidak baik. Ia akan mengabaikan kewajiban-kewajiban
militernya sehingga mempermudah musuh mengadakan gerakan perlawanan seperti
yang diadakan oleh Sultan Abdul Hamid. Dalam pada itu, hubungannya dengan rakya
terputus dan terjadilah kekacauan politik seingga timbullah perasaan tidak
senang di kalangan rakyat. Perwira
diberi altenatif memilih, tinggal dalam partai dan keluar dari tentara atau
tinggal dalam tentara dan keluar dari partai.
Selanjutnya harus dikeluarkan undang-undang yang melarang perwira
menjadi anggota partai. Pendapatnya ini kurang mendapat sambutan dari
konferensi.
Mustafa
Kemal dan Ali Fathi tidak sependapat dengan politik yang dilakukan oleh Ever,
Talet dan Jemal. Tanpa segan, Mustafa, dan Ali mengeluarkan kritik terhadap
tiga pemimpin tersebut. Selanjutnya pada
tahun 1913 Ali dibuang ke Sofa sebagai Duta, sedangkan Mustafa ikut sebagai
Atase Milliter. Dari situlah Mustafa
berkenalan langsung dengan peradaban Barat yang menarik perhatiannya, terutama
pemerintah parlementer.
Tatkala
pecah Perang Dunia I, Mustafa ditarik kembali menjadi Panglima Militer Devisi
19. Dalam medan pertempuran, ia mampu
menunjukkkan keberanian dan kecakapannya di daerah Gallipo dan daerah
perbatasan Kaukakus. Karena kemampuan dan kecakapannya dalam medan pertempuran,
ia dinaikkan pangkatnya dari kolonel menjadi Jenderal. Mustafa juga menerima
gelar Pasya. Hubungannya dengan para pemimpin Perkumpulan Persatuan dan
Kemajuan, tetap kurang lancar. Mustafa menyalahkan politk Enver Pasya dan kawan
kawannya yang melibatkan Kerajaaan Usmani dalam kancah Perang Dunia I. Ia pun mengundurkan idri dari perkumpulan
tersebut.
Selesai
Perang Dunia I, Mustafa diangkat menjadi Panglima dari semua pasukan yang ada
di Turki. Ia ditugaskan untuk
membebaskan daerah-daerah yang telah jatuh ke tanggan sekutu, seperti Izmir dan
Smyrna dari penguasa asing. Dengan
bantuan dari kalangan rakyat yang membentuk gerakan-gerakan pembela tanah air,
ia dapat memukul mundur dan membebaskan daerah wilayah Turki dari penjajah
asing.
Kemudian
bersama teman-teman yang berhaluan nasionalis, seperti Ali Fuad, Dauf dan
Refat, ia menentang perintah-perintah yang datang dari Sultan di Istambul,
karena perintah itu banyak bertentangan dengan kepentingan Nasional Turki.
Sultan Istambul saat itu masih berada di bawah pengaruh sekutu.
Dalam
keadaan seperti itu Mustafa melihat perlunya diadakan pemerintahan tandingan di
Anatolia. Segera ia dengan
rekan-rekannya mengeluarkan maklumat yang berisi pernyataan-pernyataan berikut:
1.
Kemerdekaan tanah air sedang dalam keadaan
bahaya
2.
Pemerintah
di ibukota terletak di bawah kekuasaan Sekutu dan oleh karena itu tidak dapat
menjalankan tugas
3.
Rakyat
Turki harus berusaha sendiri untuk membebaskan tanah air dari kekuasaan asing.
4.
Gerakan
pembela tanah air yang telah ada harus dikoordinasikan oleh panitia nasional
pusat.
5.
Untuk
itu perlu diadakan kongres.
Dengan tersiarnya pengumuman ini,
Mustafa diperintahkan datang ke Istambul, tetapi ia menolak sehingga ia dipecat
dari jabatannya sebagai Panglima. Mustafa keluar dari dinas tentara dan ia diangkat oleh Perkumpulan Pembela Hak-hak
Rakyat cabang Erzurum sebagai ketua.
Kongres yang diadakan pertama kali
di Erzurum menghasilkan untuk
membela serta mempertahankan kemerdekaan dan keutuhan tanah air dan mengadakan
rapat Majelis Nasional dalam waktu singkat.
Kongres kedua diadakan di Sivas dan disini diputuskan Turki harus bebas
dan merdeka dan selanjutnya dibentuk Komite Perwakilan Rakyat. Mustafa jadi Ketua.
Dalam pada itu, juga diadakan
pemilihan utnuk Parlemen di Istambul dan golongan nasionalis memperoleh
mayoritas. Namun Parlemen tidak dapat bekerja karena selalu mandapat intervensi
dari kalangan Sekutu dan akhirnya menunda pengadaan rapat sampai waktu tidak
tentu. Banyak dari anggotanya menggabungkan diri dengan Mustafa di Anatolia.
Atas usahanya dapat dibentuk Majelis Nasional Agung pada tahun
1920. Dalam sidang di Angkara, yang kemudian menjadi ibukota Republik Turki, ia
dipilih sebagi Ketua. Dalam sidang tiu
diambil keputusan-keputusan berikut:
1.
Kekuasaan
tertinggi terletak di tangan rakyat Turki
2.
Majelis
Nasional Agung merupakan perwakilan rakyat tertinggi
3.
Majelis
Nasional Agung bertugas sebagai badan legislatif dan badan eksekutif
4.
Majelis
Negara yang anggotanya dipilih dari Majelis Nasional Agung menjalankan tugas
pemerintah
5.
Ketua
Majelis Nasional Agung merangkap jabatan Ketua Majelis Negara.
Usaha yang dilakukan terus menerus
olehnya dan teman-temannya digolongkan nasionalis sehingga dan menguasai
lingkungan sehingga sekutu mengakui mereka sebagai penguasa di Turki. Secara de facto de Yure , ditandatanganilah Perjanjian Lausanne
pada tanggal 23 Juli 1923 dan pemerintah Mustafa mendapat pengakuan secara
luar dari internasional.
Setelah perjuangan untuk memperoleh
kemerdekan dapat diraih, selanjutnya ia menghendaki perjuangan baru lagi, yaitu
perjuangan untuk meperoleh dan mewujudkan peradaban Barat di Turki. Untuk
mewujudkan hararapan tersebut, ia mengadakan proyek pembaharuan dalam skala
besar.[2]
E.
Sekularisme Mustafa Kemal di Turki
Pemikiran pembaharuan yang dilakukan
oleh Mustafa Kemal dipengaruhi bukan hanya oleh ide-ide golongan Barat.
Menurutnya Turki dapat maju hanya dengan meniru Barat.
Menurut Ahmed Agouglu, Mustafa dalam
salah satu pidatonya menyatakan b ahwa kelanjutan hidup di dunia peradaban
modern menghendaki agar masyarakat mengadakan perubahan dalam diri sendiri. Pada zaman yang ilmu pengetahuannnya membawa
perubahan terus menerus bagi bangsa yang berpegang teguh pada pemikiran dan
tradisi tua dan usang, tidak dapat mempertahankan wujudnya. Masyarakat turki
harus diubah menjadi masyarakat yang mempunyai peradaban Barat dan segala
kegiatan reaksioner harus dihancurkan.
Lebih lanjut Ahmed mengatakan bahwa
ketinggian suatu peradaban terletak pada keseluruhannya, bukan dalam bagian
tertentu saja. Peradaban Barat dapat
mengalahkan peradaban lain, bukan hanya karena kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologinya saja, tetapi juga unsur tidak baiknya . Peperangan antara Barat dan Timur adalah
peperangan antara dua peradaban, yaitu Peradaban Barat dan Islam. Dalam peradaban Islam, agama mencakup
segala-galanya mulai dari pakaian, perkakas rumah, sekolah dan institusi. Turut campurnya Islam dalam segala lapangan
kehidupan membawa kepada kemunduran Islam, sedangkan Barat dengan
sekulerismenya menimbulkan peradaban yang tinggi. Jika berkeinginan untuk mempunyai wujud,
rakyat Turki harus mengadakan sekulerisasi terhadap pandangan keagamaan.
Konsep nasionalise menurut Mustafa
adalah nasionalisme Turki yang terbatas pada daerah geografisnya, dan bukan ide
nosionalisme yang luas. Daerah gerografis Turki menurut Piagam Nasional tahun
1920 ditetapkan bahwa Turki melepaskan tuntutan teritorial terhadap daerah-daerah
yang dahulu terletak di bawah Kerajaan Usmani kecuali daerah yag didalamnya
terdapat mayoritas Turki. Westernisme,
sekulerisasi dan nasionalisme menjadi dasar pemikiaran pembaharuan yang
dilakukannya.
Pembaharuannya terhadap bentuk negara dilakukan melalui sekulerisasi. Pemerintahan
dipisahkan dari agama. Sultan di Istambul memang tidak ada lagi, namun sekutu
masih menganggapnya sebagai penguasa Turki, Oleh sebab itu Sultan yang diundang
untuk menghadiri perundingan perdamaian di Lausanne.
Kemudian melalui sidang Majelis
Nasional Agung yang telah dibentuknya, Mustafa menjelaskan bahwa jabatan
Khalifah dan jabatan Sultan adalah terpisah. Khalifah berada di Baghdad (pusat)
sedangkan Sultan berada di daerah. Oleh
karena itu Turki juga harus dipisahkan.
Akhirnya diputuskan untuk menghapuskan jabatan Sultan dan yang ada
adalah Khalifah yang tidak mempunyai wewenang kekuasaan duniawi, tetapi
kekuasaan spiritual.
Dengan demikian Khalifah-khalifah di Istambul hanya merupakan
lambang keislaman Turki. Penghapusan jabatan Sultan menghilangkan dualisme
pemegang kekuasaan duniawi. Dengan
berbagai jalan diplomatik yang ditempuh, bentuk negara disetujui melalui
Konstitusi tahun 1921 menjadi Negara Republik bukan kekhalifahan. Sebagai Presiden terpilih adalah Mustafa
Kemal Pasya.
Sekalipun bentuk negara telah
republik dan kepala negara seorang presiden, namun Khalifah yang dipegang oleh
Abdul Majid menimbukan kekacauan karena masih melaksanakan praktek-praktek
lama, yakni sebagai kepala negara , dengan mengirim atau menerima wakil-wakil
negara.
Selanjutnya, Mustafa berusaha
menghapuskan jabatan Khallifah, spaya dualisme kepala negara dapat
dihindari. Dengan perdebatan yang sengit
melalui Konverensi Majelis Nasional Agung pada tanggal 3 maret 1924 diputuskan
menghapuskan jabatan Khalifah. Khalifah yang menjabat saat itu diperintahkan
meninggalkan Turki bersama keluarganya perdi ke Swiss.
Dengan demikian, dualisme kepala
negara telah hilang. Langkah mustafa selanjutnya adalah menghilangkan hubungan
antara agama dan negara yang masih dijamin dalam konstitusi sebelumnya. Berkat perjuangannya tercapailan harapan
untuk membentuk negara Turki Sekuler tahun 1937 setelah ia menanamkan prinsip
sekuler.
Dengan terbentuknya negara sekuler
Turki, lembaga –lembaga keagamaan yang terdapat dalam pemerintahan, seperti
Biro Syaikh Al Islam, Mahkamah Syariat dan sebagainya. Bersama itu pula dikeluarkan berbagai
peraturan atau undang-undang baru.
Westernisasi dan sekulerisasi yang
dilakukan oleh pemerintahan Mustafa bukan hanya pada bidang institusi, tetapi
mencakup bidang kebudayaan dan adat istiadat.
Sebab itu pemakaian terbus dilarang pada tahun 1925 dan sebagai gantinya
dianjurkan pemakaian topi Barat. Pakaian
keagamaan juga dilarang dan rakyat Turki harus mengenakan pakaian barat baik
pria atau wanita. Pada tahun 1935 dikeluarkan pula undang- undang yang
mewajibkan warga negara Turki mempunyai nama belakang. Hari cuti resmi mingguan
diubah dari hari Jumat menjadi hari Minggu.
Melihat
perkembangan sebagaimana tersebut di atas, Republik Turki merupakan negara
Sekuler. Walaupun begitu, apa yang diciptakan Mustafa Kamal belum negara yang
betul- betul sekuler. Memang benar telah dihapus pemakaiannya dan pendidikan
agama dikeluarkan dari kurikulum sekolah, tetapi Republik Turki Mustafa Kamal masih
mengurus soal agama, melalui Departemen Urusan Agama, sekolah- sekolah
pemerintah untuk imam dan khatib dan fakultas Ilahiyat dari Perguruan Tinggi
Negara, Universitas Istambul.
Mustafa Kemal
sebagaimana nasionalis dan pengagum peradaban Barat tidak menentang agama islam.
Baginya Islam adalah agama yang rasional dan diperlukan oleh umat manusia.
Namun, agama yang rasional ini telah dirusak oleh tangan manusia. Oleh sebab
itu, ia melihat perlunya diadakan pembaharuan dalam soal agama untuk disesuaikan
dengan bumi Turki. Al Quran perlu diterjemahkan ke dalam bahasa agar mudah
dipahami rakyat Turki. Azan dalam bahasa Turki mulai dilaksanakan pada tahun
1931. Fakultas Ilahiyat dibentuk untuk mempelajari pembaharuan yang diperlukan
itu. Namun, usaha itu tak berhasil dan pemikiran untuk mengadakan pembaharuan
dalam islam melalui Pemerintahan ditinggalkan.
Sekularisasi yang
dijalankan oleh Mustafa Kemal, tidak menghilangkan agama. Sekularisasinya
berpusat pada kekuasaan golongan utama dalam soal negara dan dalam soal
politik. Oleh karena itu, pembentukan partai yang berdasarkan agama dilarang,
seperti partai Islam, partai Kristen, dan sebagainya. Yang terutama
ditentangnya adalah ide Negara Islam, dan pembentukan negara Islam. Negara
mesti dipisahkan dari agama. Institusi-institusi negara, sosial ekonomi, hukum,
politik, dan pendidikan harus dibebaskan dari kekuasaan syariat. Negara dalam
pada itu, menjamin kebebasan bagi rakyat.
Paham sekularisme
dan sekularisasi yang dijalankan Mustafa Kemal mendapat tantangan keras dari
golongan Islam, tetapi ia berhasil melumpuhkannya.
Itulah pembaharuan
yang telah dilakukan oleh Mustafa Kemal Pasya yang mewakili dari golongan
nasionalis Turki. Ia meninggal dunia pada tahun 1938.
F.
Dampak Sekulerisme di Turki
1.
Negeri
dan rakyat Turki pada waktu ini (1971 M) boleh dikatakan suatu negara yang
penduduknya masih beragama Islam, tetapi sudah terisolir begitu rupa dari
dunia-dunia Islam yang lain. Kalau dulu di zaman khalifah dan syaikhul Islam,
pengaruh Turki berkumandang ke seluruh pojok dunia maka sekarang hubungan itu
sudah putus sama sekali.
2.
Kalau
dulu Turki dianggap “Imam dunia Islam” dalam soal-soal keagamaan, kebudayaan,
ilmu pengetahuan, tetapi sekarang turki sudah dilupakan oleh dunia Islam. Turki
sekarang sudah dianggap oleh dunia Islam negeri yang penduduknya masih beragama
Islam, tetapi tidak berpengaruh apa-apa lagi. Dalam dunia politik, Turki bukan
lagi suatu imam politik dari negeri - negeri Islam Asia Afrika, tetapi Turki
sudah menjadi makmum, pengekor dari roda politik dunia Barat, tidak bisa lagi
dimasukkan ke dalam kategori negara - negara besar”.
3.
Agama
menjadi rusak atau menjadi hilang, akibat dari penukaran Qur’an suci dari
bahasa Arab ke bahasa Turki, begitu juga penukaran upacara-upacara agama, seperti
adzan, sembahyang, berdo’a dari bahasa Arab ke bahasa Turki maka semuanya jadi
centang - prenang dan menjadi kacau. Apalagi bahasa Turki tidak mempunyai cukup
istilah - istilah yang dapat menyerupai 100% apa yang terkandung di dalam
bahasa Arab. Maka pengertian keagamaan pun jadi berubah. Dari corak yang dibawa
Al-Qur’an suci ke corak nasionalis-Turki yang sempit.
4.
Akibat
dari pada diperbolehkannya wanita Islam kawin dengan pemuda Nashara dan Yahudi,
maka darahnya bangsa Turki sesudah Mustafa Kemal menjadi darah Fifty - Fifty,
50% darah islam dan 50% darah Nashara atau yahudi, kalau tidak akan dikatakan
menjadi 75% darah Nashara dan darah Yahudi.
G.
Evaluasi Sekulerisme di Turki
Usaha-usaha pembaharuan diteruskan
oleh para pendukungnya. Tetapi di sini dijelaskan sekali lagi bahwa rasa keagamaan yang mendalam di
kalangan rakyat Turki tidak menjadi lemah dengan sekulerisasi yang dilakukan
Mustafa Kamal dan Pemerintah Nasionalis Turki. Islam telah mempunyai akar yang
mendalam pada masyarakat Turki, dan payah dapat dipisahkan dari identitas
nasional Turki. Orang Turki merasa dihinakan kalau dikatakan bahwa ia bukan
orang islam.
Tidak mengherankan kalau tidak lama
kemudian gerakan “kembali kepada agama” timbul di Turki. Di tahun 1940 imam-
imam tentara mulai bertugas di angkatan bersenjata Turki. Di tahun 1949
pendidikan agama dimasukkan kembali ke dalam kurikulum sekolah selama dua jam
per minggu. Setahun kemudian pendidikan agama itu dibuat bersifat wajib.
Fakultas Ilahiyat yang di tahun 1933 dirubah menjadi Institut Agama Islam,
dihidupkan kembali di tahun 1949. Mulai dari tahun 1950 orang- orang Turki
telah dibolehkan naik haji ke Mekkah. Majalah- majalah islam mulau muncul
seperti Sebil-ur- Resad dan Selamat. Ensiklopedia islam juga diterjemahkan ke
dalam bahasa Turki. Tarekat, yang selama ini tetap mempunyai pengikut besar
secara rahasia di kalangan petani dan buruh, mulai berano menonjolkan diri. Dalam
bidang politik islam juga mulai memainkan rol.
Mustafa Kemal tidak menghilangkan
agama Islam dari masyarakat Turki , dan mustafa Kemal memang tidak bermaksud
demikian. Yang ia maksud ialah menghilangkan kekuasaan agama dan bidang politik
dan pemerintahan.[3]
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dalam
“sejarah dan kebudayaan Islam imperium Turki Usmani”, sekuler diartikan sebagai
berikut, bahwa tidak ada campur tangan agama atau mazhab agama seseorang dalam
bentuk apapun atau agama ( Mazhab agama ) seseorang itu tidak boleh menjadi
perintang untuk memperoleh hak kemanusiaannya. Pada saat kehancuran Turki,
pemerintahan Turki sangat berantakan. Daerah Turki banyak yang dijajah oleh
Barat.
Mustafa Kemal, seorang pemimpin
Turki baru, yang menyelamatkan Kerajaan Usmani dari kehancuran total dan bangsa
Turki dari penjajahan Eropa. Pembaharuannya terhadap bentuk negara
dilakukan melalui sekulerisasi. Pemerintahan dipisahkan dari agama. Sultan di
Istambul memang tidak ada lagi, namun sekutu masih menganggapnya sebagai
penguasa Turki, Oleh sebab itu Sultan yang diundang untuk menghadiri perundingan
perdamaian di Lausanne.
Semenjak Mustafa Kemal meninggal, usaha-usaha
pembaharuan diteruskan oleh para pendukungnya. Tetapi di sini dijelaskan bahwa
rasa keagamaan yang mendalam di kalangan rakyat Turki tidak menjadi lemah
dengan sekulerisasi yang dilakukan Mustafa Kamal dan Pemerintah Nasionalis
Turki. Tidak mengherankan kalau tidak lama kemudian gerakan “kembali kepada
agama” timbul di Turki
DAFTAR PUSTAKA
Nasution, Harun.
Pembaharuan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan. 1975. Jakarta:
Bulan Bintang
Sani, Abdul. Lintasan
Sejarah Pemikiran Perkembangan Modern dalam islam. 1998. Jakarta: Raja
Grafindo Persada.
Syaukani, Ahmad.
Perkembangan Pemikiran Modern di Dunia Islam. 1997. Bandung: Pustaka
Setia.
[1] Drs. H.
Ahmad Syaukani, M. A, Perkembangan Pemikiran Modern di Dunia Islam, (Bandung:
Pustaka Setia, 1997), hlm 48-49
[2] Drs. H.
Ahmad Syaukani, M. A, Perkembangan Pemikiran Modern di Dunia Islam, (Bandung:
Pustaka Setia, 1997), hlm 50- 53
[3] Prof.
Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan, (Jakarta:
Bulan Bintang), hlm 154
Tidak ada komentar:
Posting Komentar