Sabtu, 04 Januari 2014

asghar ali enginer



BAB I
PENDAHULUAN

A.  LATAR BELAKANG MASALAH
Adalah fakta bahwa kemiskinan, keterbelakangan, kebodohan, ketertindasan, ketidakadilan, dan semacamnya hingga tingkat tertentu masih merupakan realitas keseharian sebagian besar umat Islam di belahan dunia manapun, tak terkecuali di Indonesia. Banyak hal bisa dituding sebagai penyebabnya, baik dari aspek sumber daya manusianya atau pun pada ranah sistem pemerintahannya yang dinilai masih gagal dalam menyelesaikan berbagai problema yang ada. Namun, terlepas apapun prime cause dari realitas dimaksud, impotensi umat Islam menghadapi kenyataan itu tentu ironis demi menyadari betapa sesungguhnya Islam sarat akan spirit revolusioner, nilai-nilai moral yang membebaskan, yang mendorong ke arah terciptanya tatanan hidup yang lebih baik, layak, dan manusiawi.
Banyak alasan yang bisa disebut mengapa ketakberdayaan itu tak kunjung usai. Salah satunya ialah ketiadaan motivasi religius dari dalam hati manusia tersebut. Fakta ketakberdayaan umat itu memang berkaitan erat dengan ketiadaan motivasi religius yang mampu berperan sebagai motivator perubahan, yang berperan transformatif dan menggerakkan mereka untuk membebaskan diri dari serimpung realitas sosial tak mengenakkan. Di situ kuncinya. Ketiadaan motivasi religius itu membuat apa yang disebut transformasi sosial nyaris tak pernah berlangsung secara signifikan di dunia Islam, termasuk Indonesia.
Dengan melihat berbagai masalah tersebut, Ashgar Ali Engineer hadir dengan pemikirannya  yang mengarah pada pembebasan terhadap belenggu yang selama ini menyelimuti kaum islam. Ia melihat agama bisa menjadi candu, yang mana jika candu  itu berarti positif akan berubah menjadi kekuatan yang kuat untuk membentuk suatu pemikiran revolusioner guna membebaskan kaum islam dari ruang lingkup ketakberdayaan tadi.
Selanjutnya penyusun menyusun makalah ini guna mencoba menggambarkan secara garis besar pola pemikiran Ashgar Ali Engineer yang erat kaitannya dengan “islam dan teologi pembebasan”.

B. RUMUSAN MASALAH
            Dengan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam makalah ini antara lain :
1.      Apakah yang menjadi pemikiran dari Ashgar Ali Engineer?
2.      Hal apa sajakah yang melatar belakangi Ashgar Ali Engineer mempunyai pemikiran seperti itu?
3.      Apa saja kontribusi dan pengaruh pemikiran Ashgar Ali Engineer dalam membangun peradaban Islam?
4.      Bagaimanakah pandangan Ashgar Ali Engineer terhadap Islam?

C. TUJUAN PEMBAHASAN
            Tujuan dari pembahasan makalah ini agar
  1. Mengetahui berbagai pemikiran Ashgar Ali Engineer.
  2. Memahami  berbagai hal yang melatar belakangi pemikiran Ashgar Ali Engineer.
  3. Mengetahui apa saja kontribusi dan pengaruh pemikiran Ashgar Ali Engineer dalam membangun peradaban Islam.
  4. Memahami berbagai pendangan Ashgar Ali Engineer terhadap Islam.
















BAB II
PEMBAHASAN

A.    BIOGRAFI SINGKAT ASHGAR ALI ENGINEER
Asghar Ali Engineer adalah seorang Muslim India. Ia adalah seorang pemikir, penulis dan aktivis sekaligus. Pemikirannya yang paling dikenal  adalah mengenai Islam dan Teologi Pembebasan. Asghar lahir pada 10 Maret 1939 di Salumbar, Rajastan, India. Ayahnya, Shaikh Qurban Hussain adalah seorang ulama pemimpin kelompok Daudi Bohras. Sewaktu belajar Tafsir dan Ta’wil Al-Qur’an, Fiqh, Hadis, dan Bahasa Arab, ia juga banyak membaca karya-karya Bettrand Russel dan Karl Marx. Ia mengaku telah membaca buku Das Kapital karya Marx. Bacaan ini terbukti sangat berpengaruh dalam cara dia menganalisis dan membahasakan gagasannya dengan bahasa-bahasa “khas kiri” seperti ketidakadilan, penindasan, revolusi, perubahan radikal, dan sebagainya.
Ia mendapatkan gelar kesarjanaan di bidang tekhnik sipil dari Vikram University, Madhya Pradesh. Selama 20 tahun ia sempat menjadi pegawai Kota Mumbay sampai memilih menjadi aktivis gerakan Bohra pada tahun 1972. Pada tahun 1980, ia membentukInstitute of Islamic Studies, di Mumbai, guna mendorong pandangan Islam Progresif di India. Pada tahun 1993  ia mendirikan Center for Study of Society and Secularism untuk mempromosikan kerukunan komunal (agama) .
Pemahaman keagamaan Asghar Ali, terkait kelompok Daudi Bohras ini. Daudi Bohras adalah sekte Syi’ah Isma’iliyah yang dipimpin oleh Imam sebagai pengganti Nabi. Saat ini Kepemimpinannya dilanjutkan oleh para Da’i. Untuk diakui sebagai seorang Da’i harus mempunyai 94 kualifikasi yang diringkas dalam 4 kelompok: (1) kualifikasi-kualifikasi pendidikan; (2) kualifikasi-kualifikasi administratif; (3) kualifikasi-kualifikasi moral dan teoritikal, dan (4) kualifikasi-kualifikasi keluarga dan kepribadian. Yang menarik adalah bahwa di antara kualifikasi itu seorang Da’i harus tampil sebagai pembela umat yang tertindas dan berjuang melawan kezaliman. Asghar Ali adalah seorang Da’i.
Daratan India tempat Engineer lahir dikenal sebagai lahan produktif bagi tumbuhnya pemikiran-pemikiran kritis dan liberal. Tahun kelahirannya pun dapat dipastikan bahwa kondisi sosio-politik di India saat itu sedang diwarnai ketegangan antara Hindu dan Muslim dalam perebutan otoritas politik. Sebab perseteruannya :
  1. Munculnya kebijakan politik yang memberlakukan sistem pemilihan yang membagi India menjadi komunitas Muslim dan Hindu yang dijalankan Inggris.
  2. Adanya sikap saling curiga dan kesalah pahaman antara Muslim dan Hindu. Pemuka Muslim cemas, Hindu sebagai kekuatan mayoritas akan mengeksploitasi dan merendahkan pihak Muslim. Sedangkan pemuka Hindu, menduga bahwa pihak Muslim tengah mencari kesempatan untuk meneguhkan kembali supremasi politik mereka di India.
Dengan memahami posisi ini,  tidak heran mengapa Asghar Ali sangat peduli dalam menyoroti kezaliman dan penindasan. Baginya, orang yang benar-benar religius akan sensitif terhadap penderitaan orang lain, terutama penderitaan orang-orang yang tertindas. Seorang religius akan menentang ketidakadilan. Orang yang diam dan membisu ketika melihat ketidakadilan dan penindasan, menurut Asghar tidak pantas disebut religius. Dari telaah kesejarahan Asghar Ali menyimpulkan bahwa Nabi Muhammad sebagai sosok yang religius, adalah seorang revolusioner yang berjuang untuk melakukan perubahan-perubahan secara radikal dalam struktur masyarakat pada zamannya.
Realitas masyarakat Muslim India tersebut menimbulkan keprihatinan tersendiri bagi Engineer. Karena itu, Ia mencanagkan teologi pembebasan dalam konteks pemikiran Islam. Konstruksi pemikiran yang dibangunnya adalah upaya untuk membela kaum tertindas. Selain itu, eksistensinya sebagai pemimpin (da’i) Syi’ah Isma’iliyyah mengharuskan Ia tampil sebagai pembela umat yang tertindas dan berjuang melawan kedzaliman.
B.       PENINDASAN DALAM PEMBANGUNANISME
Menurut Engineer, agama bisa menjadi candu / sebaliknya menjadi kekuatan yang revolusioner tergantung pada :
  1. Realitas kondisi sosio-politik
  2. Subjek yang bersekutu dengan agama, kaum revolusioner / pro status quo
Artinya, performa agama sangat tergantung pada subjek yang memaknainya dalam realitas sosio-politis yang dihadapi. Bila dimaknai sebagai sesuatu yang transformatif dan progresif, maka agama pun akan tampil demikian, begitupula sebaliknya.
Agama dengan perangkat teologisnya yang mampu menjadi kekuatan revolusioner dan transformatif-progresif harus dikedepankan dalam konteks masa kini. Sebaliknya, bentuk teologi yang menyimpang dari eksistensi agama yang sesungguhnya yaitu teologi yang mendukung status quo mesti dihancurkan, dan diganti dengan teologi pembebasan.
Engineer berpendapat bahwa “pembahasan teologi lama diperlukan untuk mengembangkan sebuah teologi pembebasan”. Realitas pemikiran, keterbelakangan, dan ketertindasan masyarakat bukan takdir, tetapi akibat dari struktur yang sistemik menciptakan kondisi-kondisi tersebut. [1]
C.       DUNIA ISLAM DAN KRISIS MODERNISME
Setiap masyarakat perlu mengalami reformasi dan perubahan. Tetapi para pemimpin masyarakat, wakil status quo, menentang keras gerakan reformasi dan perubahan karena akan mencabut kepemimpinan mereka. Mereka yang mendukung perubahan dicela sebagai bid’ah, tidak beriman, pengada-ada dan melanggar kesucian agama.
Masyarakat kebanyakan hanyalah mengikuti. Jadi seorang pembaharu yang akan melawan kepercayaan yang cukup kuat berakar perlu penyampaian persuasif. Sehingga, harus memiliki pengetahuan tentang kepercayaan tersebut, dan pengetahuan tentang hal yang dilawannya.
Seseorang yang mengetahui ajaran agama mendalam dan memiliki keyakinan bersih dan kuat, tidak akan pernah membiarkan tren-tren ini berkembang. Ia berjuang demi perubahan dan pembaharuan yang sehat, apapun resikonya. Baginya, nilai hidup yang tertinggi adalah lebih penting daripada mencari kenikmatan duniawi semata.
Serangan pada gedung WTC di New York, 11 September 2001 makin memperpuruk persoalan dan orang-orang terlanjur percaya bahwa Islam menentang modernitas.
Pikiran yang salah, jika modernitas diterima oleh agama lain tanpa pergolakan. Semua agama mengalami krisis modernitas kendati tingkat perbedaannya bervariasi.
Memang benar jika dunia Islam pada umumnya terlambat menerima modernitas. Sedang masyarakat atau agama lain lebih dahulu menerima atau tanpa perlawanan yang berarti.
Islam umumnya dipeluk oleh kelompok masyarakat miskin dan lemah di berbagai negara. Bagi lapisan masyarakat yang rentan seperti ini, agama lebih merupakan hiburan batin dan balsam spiritual ketimbang rasionalitas dan modernitas.
Banyak ulama muslim juga berangkat dari lapisan masyarakat miskin dan terbelakang. Dan mereka pun masih menganut teologi abad pertengahan, dimana suatu kelompok yang menyimpang atau melawan disebut sebagai bid’ah. Padahal, Qur’an tidak membatasi kebebasan berpikir. Sebaliknya, Al-Qur’an mendorong ilmu pengetahuan yang dikaitkan dengan istilah cahaya (nur), dan kebodohan (jahl) dengan kegelapan. Ilmu adalah kata kunci Qur’an. Demikian juga, ilmu tidak mungkin tanpa penyelidikan bebas. Proses kreatif dan kebebasan intelektual merupakan syarat penting untuk menjadi modern.
Dibutuhkan revolusi demokrasi yang luas dalam dunia Islam. Kelas-kelas penguasa negara-negara Islam masih bergantung pada dukungan dari Barat, khususnya kepentingan politik-ekonomis Amerika Serikat. Mereka menyokong penguasa otoriter dan berkepentingan dengan mempertahankan struktur kekuasaan otoriter dan budaya penghambaan. Demokrasi liberal di dunia Islam akan melukai kepentingan ekonomi mereka. Hal ini yang mencegah revolusi demokratis di banyak negara-negara Islam. Negara-negara seperti Iran masih terpaku dengan teokrasi, membatasi kebebasan pemikiran. Proses globalisasi lebih banyak memperkuat dominasi ekonomi Barat dan menciptakan budaya hegemoni Amerika, membulldozer seluruh identitas lain yang sedang berproses. [2]
Pada konteks ke-Indonesia-an, Engineer melihat realita yang ada di Indonesia. Indonesia di bawah pemerintahan diktator militeristik yang cukup lama dan seluruh ekspresi perbedaan pendapat ditekan dengan kejam. Akhirnya, masyarakat dengan cepat mengekspresikan perbedaan mereka. Tetapi, sekarang militer telah ditumbangkan dan rakyat bebas untuk berdemonstrasi menggerakkan orang-orang pergerakan yang ada di permukaan.
Indonesia merupakan negara muslim terbesar dan orang muslim di negara ini telah mendapatkan hak-hak politiknya untuk pertama kali dalam beberapa dekade terakhir. Kebangkitan Islam sama sekali bukanlah sebuah fenomena negatif. Saat ini, masyarakat Indonesia terpolarisasi diantara kelompok fundamentalisme dan kelompok moderat. Islam ortodoks di Indonesia juga mengakar kuat tetapi hal ini untuk menghadapi tantangan Islam liberal. [3]

D.      TEOLOGI PEMBEBASAN DALAM PANDANGAN ISLAM

Teologi pembebasan menurut Engineer  :
1.      Dimulai dengan melihat kehidupan manusia di dunia dan akherat
2.      Teologi tidak menginginkan status quo yang melindungi golongan kaya yang berhadapan dengan golongan miskin
3.      Teologi pembebasan memainkan peranan dalam membela kelompok yang tertindas dan tercabut hak miliknya, serta memperjuangkan kepentingan kelompok ini dan membekalinya dengan senjata ideologis yang kuat untuk melawan golongan yang menindasnya
4.      Teologi pembebasan tidak hanya mengakui satu konsep metafisika tentang takdir dalam rentang sejarah umat Islam, namun juga mengakui konsep bahwa manusia itu bebas menentukan nasibnya sendiri.

Dalam pengertian metafisis dan di luar proses sejarah, Engineer memiliki pemahaman bahwa teologi sangat memberi ruang yang bebas kepada manusia. Oleh karena itu pembicaraan dalam teologi sebenarnya penuh dengan ketidakjelasan metafisis dan masalah-masalah yang abstrak. Karakteristik teologi yang seperti ini telah memperkuat kemapanan, dan mengakibatkan para teolog menjadi berpihak pada status quo. Bahkan sampai beranggapan bahwa semakin teologi itu tidak jelas secara metafisis, maka cenderung akan semakin memperkuat status quo.
Jika agama masih ingin mendapat tempat di hati kelompok yang tertindas dan lemah, perlu dikembangkan teologi pembebasan. Agama tradisional jika diformulasikan dalam teologi pembebasan, dapat memainkan peran yang sentral sebagai praksis yang revolusioner , dibanding dengan agama yang hanya berupa upacara-upacara ritual yang tidak bermakna.
Agama dalam bentuk yang tradisional hanyalah sebuah ilusi, namun jika ditampilkan dalam bentuk yang membebaskan dapat menjadi kekuatan yang mengagumkan.
Dengan demikian, kedatangan Islam adalah untuk merubah status quo serta mengentaskan kelompok yang tertindas dan dieksploitasi.  Masyarakat yang sebagian anggotanya mengeksploitasi sebagian anggota lainnya yang lemah dan tertindas, tidak dapat disebut sebagai masyarakat Islam, meskipun mereka menjalankan ritualitas islam. Hadits lain mengatakan bahwa sebuah Negara dapat bertahan hidup walau di dalamnya ada kemiskinan, namun tidak bisa bertahan jika di dalamnya terdapat penindasan.
Allah SWT menegaskan bahwa keadilan merupakan ukuran tertinggi suatu masyarakat.
a). “Katakanlah : ‘Tuhanku memerintahkan supaya kamu berbuat adil’ “ (Q.S 7 : 29)
b). “Sungguh, Allah mencintai orang yang berbuat adil” (Q.S 49 : 9)
c). “Berlakulah adil, dan itu lebih dekat kepada taqwa” (Q.S 5 : 8)
Oleh karena itu, arti taqwa di dalam Islam bukan hanya menjalankan ibadah ritual saja. Tanpa keadilan sosial, tidak akan ada ke-taqwa-an. Sayangnya, Islam yang bersifat revolusioner ini segera menjadi agama yang kental dengan status quo setelah Nabi Muhammad saw meninggal dunia. Sehingga selama abad pertengahan, Islam sarat dengan praksis feodalistik dan para ulama ikut menyokongnya. Mereka hanya menulis tentang masalah furu’iyah dalam syariat, tapi mengecilkan arti vital Islam dalam menciptakan keadilan sosial  dan kepedulian Islam yang aktif terhadap kelompok lemah dan tertindas.
Sehingga sampai sekarang, Islam yang diterima masyarakat kental dengan status quo. Maka dari itu, yang sangat dibutuhkan sekarang ini adalah menghapus sistem kapitalisme yang didasarkan pada eksploitasi sesama manusia (jika semangat islam masih menjadi ruh bagi masyarakatnya).
Selanjutnya akan dibahas aspek teoritis yang penting dan relevan dengan  teologi pembebasan dalam Islam. Masa awal perkembangan Islam (pemerintahan 4 khalifah pertama) disibukkan dengan perjuangan untuk mempertahankan Islam dan menyebarluaskannya ke jazirah Arab. Pada masa itu, manusia dalam bekerja merasa yakin dapat meraih tujuan hidup dan menggapai masa depannya. Manusia memahami dirinya bukan sebagai orang yang tidak berdaya dan ditentukan oleh pihak di luar dirinya. Kehendak Allah SWT dimengerti sebagai puncak inspirasinya, kediriannya, dan kedalamannya. Tema-tema ketidakberdayaan manusia, determinasi dan ketergantungan manusia hanya muncul ketika manusia dimanjakan oleh kekuasaan yang mapan, yang menguatkan status quo.  

E.       AGAMA, IDEOLOGI DAN TEOLOGI PEMBEBASAN DALAM PANDANGAN ISLAM
Menurut Engineer, agama harus dilihat dalam konteks sosiologis dan juga filosofis. Agama dapat menjadi candu atau menjadi kekuatan yang revolusioner tergantung pada kondisi sosio-politik yang nyata dan tergantung pada siapa yang akan bersekutu dengan agama, apakah kaum revolusioner atau status quo. Oleh karena itu, mempelajari agama harus dipandang sebagai kegiatan intelektual, spiritual dan historis yang serius.
Teologi pembebasan
Jika agama secara serius dianggap sebagai kebaikan dan berdiri sepihak dengan revolusi, kemajuan dan perubahan maka agama harus dilepaskan dari aspek-aspek teologis yang yang bersifat filosofis, yang berkembang mencapai puncaknya hingga aspek filosofis ini menjadi bagian utama dari agama yang bukannya mendukung kaum yang tertindas tetapi mendukung kelompok penindas. Umumya teologi pada masa sekarang ini dikuasai oleh orang-orang yang sangat mendukung status quo, sehingga teologi cenderung sangat ritualis, dogmatis dan bersifat metafisis yang membingungkan sehingga agama menghipnotis masyarakat. Teologi hanya berupa seikat ritual yang tidak memiliki ruh, tidak menyentuh kepentingan kaum tertindas dan para pekerja kasar, serta menjadi latihan intelektual dan metafisis yang abstrak bagi kalangan kelas menengah.
Karena itulah, agama menjadi penyebab langgengnya status quo. Ritual yang tidak memiliki ruh keagamaan dan juga abstraksi metafisis ini harus disingkirkan dari agama. Agama harus menjadi sumber motivasi bagi kaum tertindas untuk merubah keadaan mereka dan menjadi kekuatan spiritual untuk mengkomunikasikan dirinya secara berarti dengan memahami aspek-aspek spiritual yang lebih tinggi dari realitas ini.

F.        ISLAM DAN TEOLOGI PEMBEBASAN
Islam adalah agama dalam pengertian teknis dan sosial-revolutif yang menjadi tantangan yang mengancam struktur yang menindas pada saat ini di dalam maupun di luar Arab. Tujuan dasarnya adalah persaudaraan yang universal, kesetaraan, dan keadilan sosial.
Dalam Q.S 49 : 13 secara jelas membantah semua konsep superioritas rasial, kesukuan, kebangsaan atau keluarga, dengan satu penegasan dan seruan akan pentingnya kesalehan. Al-Qur’an tidak ragu-ragu untuk mempercayakan kepemimpinan seluruh dunia kepada mustad’ifin, yakni kaum yang lemah, bahkan mereka itu adalah pemimpin dan pewaris dunia Q.S 28 : 5.
Al-Qur’an juga memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk berjuang membebaskan golongan masyarakat lemah dan tertindas. Q.S 4 : 75. Serta di Q.S 8 : 39, kaum muslim diperintahkan untuk berperang sampai tidak ada lagi penindasan. Para penindas dan eksploitator menganiaya golongan lemah dan dengan seenaknya menggunakan kekerasan untuk mempertahankan kepentingan mereka. Tidak mungkin kita dapat membebaskan penganiayaan ini tanpa melakukan perlawanan.
Al-Qur’an juga mengecam Fir’aun sebagai penindas dan sombong, dan sekali lagi menyatakan bahwa orang-orang yang lemah adalah pewaris dunia Q.S 7 : 137. Dari ayat ini dapat dicermati bahwa Allah SWT tidak memberi toleransi kepada struktur yang menindas dan menganiaya orang-orang yang lemah. Ya, Islam memang menganjurkan untuk menjadi kaya, sesuai dengan Q.S 10 :93, 16 : 73, 17 : 70, 20 : 81, 23 : 51, 40 : 94, 45 : 16. Akan tetapi, konteks ayat-ayat tersebut secara jelas menunjukkan untuk kesehatan dan kebaikan sosial, yang berasal dari kata kunci tayyib, yang berarti baik, menyenangkan, menyehatkan dan nyaman. Di sini terlihat bahwa Allah SWT memperingatkan orang-orang yang memakan barang-barang yang baik agar tidak berlebihan. Karena berlebihan dapat menimbulkan murka Allah SWT jika sebagian kecil orang kaya di suatu masyarakat mengkonsumsi barang secara berlebihan, sedangkan yang lainnya mengalami kekurangan. Maka Allah SWT akan menimpakan bencana kepada masyarakat tersebut, seperti dalam Q.S 17 : 16.
Karena itu, orang-orang yang telah mampu memenuhi kebutuhan pokoknya, harus memberikan sebagian hartanya kepada fakir miskin. Q.S 2 :219.
Allah SWT membenarkan negara yang berkeadilan walaupun dipimpin orang kafir, dan menyalahkan negara yang tidak menjamin keadilan meskipun dipimpin oleh seorang muslim. Seseorang belumlah dikatakan memahami ajaran Islam dan menangkap intinya, jika mengesampingkan konsep keadilan sosio-ekonomi, persamaan jenis kelamin, ras dan kebebasan serta menghargai harkat dan martabat manusia.[4]


G.      TEOLOGI DAMAI ISLAM
 Al-Qur’an memperbolehkan jalan kekerasan dalam situasi yang tidak terelakkan, namun memerintahkan damai sebagai sebuah norma. Agama-agama besar dunia datang untuk menegakkan keadilan dan kedamaian. Kekerasan tidak pernah menjadi bagian dari agama manapun, begitu juga islam.
Menurut Qur’an, (Q.S 95 : 4-5). Allah SWT menghendaki damai, dan menciptakan kita demi tujuan itu, dalam bentuk yang terbagus. Tetapi, tamak kita terhadap harta dan pangkat, membuat kita rendah menjadi alat agresi dan kekerasan. (183)
Akar kekerasan, terletak pada ketamakan manusia, dalam (Q.S 2 : 219). Jelas dari ayat ini bahwa anda menafkahkan untuk diri anda sesuai dengan kebutuhan pribadi dan mensedekahkan selebihnya kepada orang lain yang membutuhkan. Hal yang sama, Qur’an menggambarkan dalam konteks lain bahwa kekayaan hendaknya tidak berputar diantara orang kaya saja. (Q.S 57 : 7), dan (Q.S 9 : 34) (184)
Penting untuk dicatat bahwa Qur’an menarik fokus perhatian kita lebih dari sekali pada konflik antara mustakbirun dan mustad’ifun, yaitu antara yang sombong dan kuat melawan yang lemah dan teraniaya. Pihak pertama diwakili oleh Namrud dan Fir’aun, dan yang kedua oleh Ibrahim dan Musa. Ibrahim dan Musa adalah pembebas, yang membebaskan orang-orang yang ditindas, dengan tidak melalui kekerasan tetapi lewat perjuangan, membawa mereka keluar dari situasi dan tatanan tidak adil. Selalu saja akan ada perjuangan antara penganiaya dan teraniaya, antara yang kuat dan yang lemah. Namun tidak dengan cara kekerasan. (185-186)
H.      ISLAM DAN DAMAI
Islam merupakan dari akar kata salam (damai). Islam berarti penegakan kedamaian dan tunduk kepada kehendak Allah SWT. (192)
Islam hendak menciptakan kedamaian dari atas bumi dengan mengutuk penumpahan atau peredaran kekayaan diantara orang-orang kaya. Surah 104, menegaskan bahwa pemilik harta berlebih-lebihan akan dibakar oleh Allah SWT dalam api neraka yang menyala-nyala. (193). Dunia muslim penuh dengan ketidakadilan dan kekerasan. Islam berbuat terbaik untuk menekankan keadilan dan kedamaian tetapi sebagian orang, khususnya pemimpin muslim, masih berlebih-lebihan dengan harta dan kekuasaan. Karena itu, kesalahan atas kekerasan terletak pada pribadi muslim ini, bukan pada Islam. Adapun Islam, adil dan damai adalah bagian yang tak terpisahkan dari ajarannya. Terlebih lagi, bagi berjuta-juta muslim, Islam adalah pengalaman spiritual. Shalat, puasa, berhaji dan praktek spiritual lainnya untuk merasakan kepuasan. Muslim semacam ini merupakan mayoritas terbanyak. Mereka tidak punya kaitan dengan politik, kekerasan atau menggunakan Islam untuk kepentingan pribadi. Mereka inilah, muslim yang mencari kedamaian, menganggap Islam sebagai sumber terbesar kedamaian dalam diri. (194)
I.         KONSEP CINTA KASIH DALAM ISLAM
Allah SWT mengutus Rasul sebagai wujud kasihNya untuk alam. (Q.S 21 : 107). Rasulullah yang mewakili kasihNya dan selanjutnya diakui sebagai rahmatan lil ‘alamin. Jadi, pengikut sejati Nabi harus menjadi seorang yang pengasih dan penyayang untuk seluas mungkin umat manusia. Siapapun yang lalim, ia tidak memiliki kepekaan terhadap penderitaan orang lain, ia bukan pengikut Nabi sejati. Celakanya, muslim lupa titik tekan Qur’an pada kualitas kasih tersebut. Sejumlah kelompok yang kecewa selalu berbicara tentang jihad dan kekuasaan. (196-197)
Qur’an juga hendak menyingkirkan mereka yang sombong karena kekayaan dan kekuasaan, dan Qur’an memperkuat yang lemah, sehingga tidak ada lagi kesengsaraan di muka bumi (Q.S 28 : 5) (199)
Lantas, muslim sejati adalah mereka yang memperlihatkan cinta yang rata dan kasih sayang untuk seluruh umat manusia apapun tradisi kepercayaan yang mereka punyai. (203)[5]

J.     MUHAMMAD SANG PEMBEBAS
Pembebasan dalam Bidang Sosial
Nabi Muhammad saw menikah pada usia 25 tahun, Ia mulai melakukan perenungan di gua Hira untuk memikirkan kondisi sosial, religius, budaya dan ekonomi di sekilingnya. Pada usia 40 tahun Nabi mengejutkan kota Mekah untuk membebaskan masyarakat Mekah dan seluruh umat manusia dari penderitaan, takhayul, penindasan, perbudakan dan ketidakadilan. 
Perenungan-perenungan Nabi Muhammad saw di gua Hira, kemudian mendapat wahyu (QS.96:1-5) menjadi titik mula lahirnya ISLAM Agama Allah yang besar ini. 
Ayat suci yang pertama kali turun dimulai dengan kata: “Iqro”. Terjemah Ayat 1: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.” Ini berarti manusia harus belajar dan menguasai ilmu pengetahuan tentang penciptaan. Terjemah Ayat 3: “Yang mengajar (manusia) dengan pena.” Sebagai catatan, bahwa bangsa Arab tidak mengenal apa itu pena, baca tulis itu sangat jarang. Al Qur’an menekankan menggunakan pena, karena dengan pena ilmu pengetahuan ditransformasikan dari satu tempat ke tempat lainnya, dan dari satu generasi ke generasi lainnya. Ini menunjukan bahwa Nabi Muhammad saw membebaskan masyarakat Arab dari buta huruf dan kebodohan.
Minimnya masyarakat Arab yang mampu membaca dan menulis, berdampak terhadap cara pandangnya. Bangsa Arab begitu terkungkung oleh cara pandang kesukuannya. Cara pandang ini kemudian secara keseluruhan dihapus oleh ajaran Al Qur’an. Al Qur’an mengajarkan bahwa semua manusia berasal dari keturunan yang sama, dan tidak ada perbedaan karna suku, bangsa, ras atau warna kulit. Terjemahan Al-Hujurat QS.49:13 berbunyi: Wahai manusia! Sungguh, kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah SWT ialah orang yang paling bertaqwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti. Nabi Muhammad saw memberikan teladan untuk tidak membeda-bedakan manusia. Nabi menerapkan ajaran ayat tersebut dengan cara mengangkat seorang budak negro, Bilal menjadi Muazzin, sebuah kehormatan yang didambakan oleh banyak orang Arab. Nabi Muhammad saw memberikan teladan agar manusia tidak membeda-bedakan.
Al Qur’an secara nyata juga menyatakan bahwa hak dan kewajiban perempuan sama dengan laki-laki ( QS Al-Baqarah : 228 ). Nabi Muhammad saw berjuang untuk mengangkat derajat hidup wanita. Misalnya ayat QS 4:1-3 yang menyatakan bahwa “Jika kamu khawatir tak berlaku adil terhadap yatim-yatim itu, maka kawinilah wanita-wanita itu yang kamu senangi dua, tiga, atau empat. Jika kamu khawatir tak berlaku adil, maka seorang saja. Kalau perempuan dikatakan menderita karena suaminya boleh menikahi lebih dari satu wanita (sampai empat), itu hanyalah sebuah stigma. Tidak bisa disangkal stigma ini merendahkan status perempuan, yang sesungguhnya sederajat dengan laki-laki. QS 4:1-3 bukan menganjurkan poligami. Poligami bukan perintah, bukan anjuran, tapi salah satu opsi dalam situasi darurat. Keadilan tetap menjadi acuan tertinggi. Dari ayat tersebut jelas, bahwa menikahi lebih dari satu perempuan demi kesenangan semata tidaklah dibenarkan. Ini membuktikan bahwa Nabi Muhammad saw sangat menghargai fungsi dan kedudukan wanita.

Keadilan Ekonomi
Al Qur’an sangat menekankan keadilan distributif. Al Qur’an tidak menginginkan harta kekayaan itu hanya berputar diantara orang-orang kaya saja (QS.57:7). Dalam QS.9:34, Al Qur’an memberikan beberapa peringatan kepada mereka yang suka menimbun harta tetapi tidak membelanjakan di jalan Allah SWT. Al Qur’an juga mengajarkan untuk menyumbangkan kelebihan hartanya (QS.2:219).
Bahkan Al Qur’an dengan tegas melarang riba dan memperingatkan siapa saja yang mengadakannya akan diperangi oleh Allah SWT dan RasulNya (QS.2:275-278 dan QS.30:39). (41-54)[6]
K.      ISLAM SEBAGAI IDEOLOGI PEMBEBASAN
Islam adalah agama pembebasan. Diantara misi penting Islam adalah membela, menyelamatkan, membebaskan, memuliakan dan melindungi orang-orang tertindas, sehingga kelompok pertama yang mengapresiasi kehadirannya adalah mereka yang tertindas, miskin dan para budak (96)
Performa Islam sebagai agama revolusioner yang mampu melakukan perubahan monumental dalam ranah sosial, ekonomi, atau keyakinan teologis merupakan etos paradigmatik yang mesti digali dalam konteks kekinian. Asal usul historis Islam bisa membantu untuk memahami potensi revolusionernya (97)
Sehingga perlu dilakukan dialektika kreatif terhadap realitas sosiologis yang dialami oleh masyarakat. Sebagaimana teologis modern revolusioner yang harus memeperhatikan kondisi yang ada agar mampu mendorong terciptanya kemajuan dan perubahan bagi masyarakat miskin dan tertindas, agama juga harus berkorelasi dengan realitas sosiologis (98).
L.       DARI DEKONSTRUKSI KE REKONSTRUKSI
Engineer ingin menunjukkan bahwa untuk mebangun teologi revolusiner diperlukan praksis sosial. Kesadaran agama yang hanya berhenti pada tatanan intelektual tidak akan memanifestasikan teologi revolusioner, teologi yang membebaskan.
Teologi klasik  memiliki 2 kelemahan :
  1. Wataknya lebih bersifat intelektualistik, metafisis, spekulatif.
  2. Lekatnya relasi teologi klasik dengan politik kelompok status quo.
Kelemahan yang ada dalam teologi klasik tersebut harus didekonstruksi. Dalam masyarakat muslim yang dihadang perkembangan ilmu pengetahuan dan perubahan-perubahan teknologis yang begitu dramatis di samping berbagai persoalan kemanusiaan seperti penindasan, keterbelakangan, dan ketidakadilan, secara ekonomi, sosial dan politik maka tawaran teologi pembebasan yang mengedepankan kesadaran praksis sosial adalah hal yang utama. Problem rakyat tidak selesai hanya dengan mengandalkan pendekatan intelektual dan rasional tetapi harus berupa gerakan-gerakan nyata, yakni sebuah teologi pembebasan.
Teologi pembebasan, lebih dari sekadar teologi rasional. Artinya, teologi pembebasan tidak terkukung dalam area pemikiran murni dan spekulatif yang ambigu, tetapi melebarkan sayap paradigma praksis sosial sebagai instrumen paling kokoh untuk membebaskan umat manusia dari penindas, memberi motivasi bertindak dengan semangat revolusioner dalam berjuang menghadapi tirani, eksploitasi dan penganiayaan. Teologi pembebasan memberikan keyakinan posibilitas untuk mengubah kondisi-kondisi agar menjadi lebih baik. (99-100)
Oleh karena itu, teologi klasik harus diubah dan diganti. Jika agama secara serius dianggap sebagai kebaikan dan berpihak dengan revolusi, kemajuan dan perubahan, agama harus dilepaskan dari aspek-aspek teologis yang bersifat filosofis. Untuk mengubah teologi klasik menjadi teologi praksis pembebasan diperlukan : (101)[7]
a). Tauhid
Teologi pembebasan tidak hanya mengartikan tauhid sebagai keesaan Tuhan, tetapi memaknai sebagai kesatuan manusia. Konsep tauhid ini sangat dekat dengan semangat Al-Qur’an untuk menciptakan keadilan dan kebajikan (al-‘adl wa al ‘ahsan). Sehingga tauhid merupakan iman kepada Allah SWT yang tidak bisa ditawar dan konsekuensinya adalah menciptakan struktur yang bebas eksploitasi.(11)[8]
b). Jihad
Islam yang berorientasi praksis disebutkan dengan tegas di dalam Al-Qur’an. “Tiadalah sama orang mukmin yang duduk saja di rumah (kecuali yang sakit), dan orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya”. Kalimat selanjutnya, “Allah menempatkan orang berjihad dengan harta dan jiwanya sederajat lebih tinggi dari orang yang duduk saja di rumah” (Q.S 4 : 95)(9)
Jelas bahwa jihad bukan untuk mengedepankan kepentingan pribadi atau mempertahankan status quo, namun demi kepentingan orang yang tertindas dan lemah. Penderitaan dan kemiskinan betul-betul merupakan negasi dari manusia sebagai sebaik-baiknya bentuk, yang akan menempatkannya ke tingkat yang paling rendah. Arogansi kekuasaan, ketidakadilan, penindasan terhadap yang lemah, pengekangan terhadap aspirasi masyarakat banyak, diskriminasi, penumpukan kekayaan, pemusatan kekuasaan, dan lain sebagainya akan mengarah pada struktur sosio-ekonomi yang menindas. Sehingga demi menegakkan kebenaran, teologi Islam harus berjihad melawan segala hal yang menyebabkan kemiskinan.(10-11)[9]
Dalam teologi pembebasan, jihad bukan untuk melakukan perang (aggression), tapi jihad dimaknai sebagai berjuang dalam menghapus eksploitasi, korupsi dan berbagai bentuk kezaliman. Perjuangan ini harus dilakukan secara dinamis dan istiqamah hingga pengaruh destruktif sirna dari muka bumi. (102)[10]

c). Iman
Iman berarti selamat, damai, perlindungan, dapat diandalkan, terpercaya dan yakin.  Iman yang sebenar-benarnya mengimplementasikan semua itu. Iman kepada Allah SWT mengantarkan manusia kepada perjuangan yang keras untuk menciptakan masyarakat yang berkeadilan. Al-Qur’an memerintahkan orang-orang yang beriman agar berkeyakinan, berjuang melawan ketidakadilan dan agar tidak berputus asa serta menyerah pasrah. Hal ini merupakan bagian yang paling mendasar dalam teologi pembebasan.(12)[11]


BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Hal mendasar yang dilakukan Engineer adalah berusaha memaknai kembali atau memberi makna baru pada Islam untuk membebaskan manusia dari segala bentuk ketertindasan, kezaliman, dan keterbelakangan lewat teologi pembebasan. Menurut Engineer, ciri utama dari teologi pembebasan adalah pengakuan terhadap perlunya memperjuangkan secara serius problem bipolaritas spiritual-material kehidupan manusia dengan menyusun kembali menjadi tatanan yang tidak eksploitatif, mengedepankan keadilan dan egaliter. Teologi Engineer adalah teologi humanis, sebuah paradigma teologi praksis bagi manifestasi pembebasan manusia, yakni realitas teologi yang berangkat dari upaya memaknai kembali Islam demi kepentingan pembebasan manusia. (103-104)[12]



















DAFTAR PUSTAKA

Engineer, Asghar Ali. Islam dan Teologi Pembebasan. 2009. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Engineer, Asghar Ali. Islam Masa Kini. 2004. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. 
Engineer, Asghar Ali. Liberalisasi Teologi Islam. 2004. Yogyakarta : Alenia.
Na’im, Abdullah Ahmad, dkk. Pemikiran Islam Kontemporer. 2003. Yogyakarta : Jendela.



[1] Abdullah Ahmad Na’im, dkk. Pemikiran Islam Kontemporer, (Yogyakarta : Jendela, 2003), hal. 85-95.
[2] Asghar Ali Engineer. Liberalisasi Teologi Islam, (Yogyakarta : Alenia, 2004), hal. 110-134.

[3] Asghar Ali Engineer. Islam Masa Kini, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2004), hal. 179-182.
[4] Asghar Ali Engineer. Islam dan Teologi Pembebasan, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2009), hal. 1-39.
[5] Asghar Ali Engineer. Liberalisasi Teologi Islam, (Yogyakarta : Alenia, 2004), hal. 183-203.
[6] Asghar Ali Engineer. Islam dan Teologi Pembebasan, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2009), hal. 41-54.
[7] Abdullah Ahmad Na’im, dkk. Pemikiran Islam Kontemporer, (Yogyakarta : Jendela, 2003), hal. 96-101.
[8] Asghar Ali Engineer. Islam dan Teologi Pembebasan, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2009), hal. 11.
[9] Asghar Ali Engineer. Islam dan Teologi Pembebasan, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2009), hal. 9-11.
[10] Abdullah Ahmad Na’im, dkk. Pemikiran Islam Kontemporer, (Yogyakarta : Jendela , 2003), hal. 102.
[11] Asghar Ali Engineer. Islam dan Teologi Pembebasan, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2009), hal. 12.
[12] Abdullah Ahmad Na’im, dkk. Pemikiran Islam Kontemporer, (Yogyakarta : Jendela, 2003), hal. 103-104.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar